MAKALAH LANDASAN PENDIDIKAN
TEORI INTELIGENSI
GANDA OLEH GARDNER TERKAIT DENGAN KECERDASAN MENGENAI OBJEK
Dosen Pengampu :
Gregorius Ari. N., SJ., M.A.
Disusun
oleh :
Kelompok
7 (Kelas 2-E)
1. Gabriella
Muna Yulinar (141134218)
2. Vicensia
Nataliardila (141134219)
3. Maria
Krusita (141134220)
PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
JURUSAN
ILMU PENDIDIKAN
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
2015
Puji syukur senantiasa kami
panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini
dengan baik dan lancar.
Penulisan makalah ini dalam rangka
memenuhi tugas mata kuliah landasan pendidikan. Adapun makalah ini membahas
mengenai teori inteligensi ganda menurut Gardner mengenai kecerdasan terkait
objek. Makalah ini telah kami usahakan semaksimal mungkin dan tentunya dengan bantuan
dari berbagai sumber. Untuk itu kami tidak lupa menyampaikan terima kasih kepada
semua sumber yang telah memberikan informasi sehingga sangat membantu kami
dalam menyelesaikan makalah ini.
Tidak lepas dari itu semua, kami
menyadari sepenuhnya bahwa masih banyak kekurangan dalam makalah ini baik dari segi
penyusunan bahasa maupun dari segi lainnya. Oleh karena itu kritik dan saran
sangat diharapkan dari para pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
Semoga
apa yang telah kami sampaikan dalam makalah ini berguna untuk menambah wawasan
pengetahuan khususnya bagi kami sendiri, umumnya bagi pembaca.
Yogyakarta,
07 April 2015
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Manusia
diciptakan dengan akal budi. Dengan akal budi tersebut manusia akan berpikir
untuk mencapai kepenuhan dirinya. Kemampuan berpikir ini akan berkembang sesuai
dengan usia dan pengalaman manusia itu sendiri. Kemampuan berpikir manusia diwujudkan dalam
sebuah kecerdasan atau inteligensi. Kecerdasan ini didapatkan manusia seiring
dengan perkembangan dalam hidupnya.
Dalam
diri manusia terdapat tiga kecerdasan, yaitu kecerdasan intelektual atau IQ,
kecerdasan emosi atau EQ, dan kecerdasan spiritual atau SQ. Ketiga kecerdasan
ini saling berkaitan satu sama lain untuk itu agar terjadi keseimbangan, maka
ketiga kecerdasan ini harus diasah secara baik melalui suatu proses
pembelajaran dan pengalaman-pengalaman tersendiri.
Menurut
Piaget perkembangan kecerdasan anak dibagi ke dalam empat tahap, yaitu tahap
sensori motorik (0-2 tahun), tahap praoperasional (2-7 tahun), tahap operasional
konkret (7-12 tahun), dan tahap operasional formal (12 tahun ke atas). Dari
tahapan ini jelas bahwa kecerdasan manusia berkembang secara bertahap dan tidak
secara langsung ataupun secara acak. Saat anak-anak masuk pada tahap tertentu
dan hal tersebut berkaitan dengan dunia pendidikan maka mereka akan memiliki
peluang yang besar untuk mengasah kecerdasan mereka. Selain kegiatan
pembelajaran, pengalaman yang dimiliki mereka juga akan mempengaruhi
perkembangan kecerdasan mereka.
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimanakah
pandangan masyarakat mengenai inteligensi?
2.
Bagaimanakah
Gardner memandang sebuah inteligensi?
3.
Bagaimanakah
teori inteligensi ganda yang dikemukakan oleh Gardner?
C.
Tujuan
1.
Mengetahui pandangan
masyarakat mengenai inteligensi.
2.
Mengetahui pandangan
Gardner mengenai inteligensi.
3.
Mengetahui
teori inteligensi ganda yang dikemukakan
oleh Gardner.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pandangan Masyarakat Mengenai Inteligensi
Banyak
orang cukup lama percaya bahwa bila seseorang memiliki IQ tinggi, maka ia akan
sukses dalam hidup ini (Suparno, 2004: 11). Maka pengukuran IQ sejak lama
menjadi salah satu ukuran terpenting dalam menentukan kemungkinan sukses
seseorang. Dalam kenyataannya sekarang ini, dapat dilihat bahwa orang yang
ber-IQ tinggi belum tentu sukses dan belum tentu hidup bahagia. Orang yang
ber-IQ tinggi tetapi karena emosinya tidak stabil dan mudah marah, sering kali
keliru dalam menentukan dan memecahkan persoalan hidup karena tidak dapat
berkonsentrasi (Suparno, 2004: 11). Emosinya yang tidak berkembang, tidak
terkuasai, sering membuatnya berubah-ubah dalam menghadapi persoalan dan
bersikap terhadap orang lain sehingga banyak menimbulkan konflik.
Emosi
yang kurang terolah juga dengan mudah menyebabkan orang tersebut kadang sangat bersemangat
menyetujui sesuatu, tetapi dalam waktu singkat berubah menolaknya, sehingga
mengacaukan kerja sama yang disepakati bersama orang lain. Maka, orang tersebut
mengalami kegagalan. Di lain pihak beberapa orang yang IQ-nya tidak tinggi,
karena ketekunan dan emosinya yang seimbang, sukses dalam belajar maupun
bekerja. Hal ini menggambarkan bahwa IQ bukanlah jaminan untuk kesuksesan
seseorang, meskipun memang punya peran yang sangat penting dalam hidup
seseorang, terutama dalam hal pengembangan pengetahuan (Suparno, 2004: 11).
Dengan berkembangnya waktu dan keadaan orang mulai menyadari bahwa selain IQ,
orang perlu memperkembangkan EQ dan SQ.
Masyarakat
menganggap bahwa seseorang seperti Einstein, ahli nuklir, sangat hebat melebihi
Ibu Teresa, pejuang kaum gelandangan dan orang miskin. Padahal itu tidak benar.
Kita juga tidak dapat mengatakan bahwa penemu obat AIDS lebh hebat daripada
pertapa yang menemukan kedalam dirinya. Bahkan, sesuatu yang disebut hebat itu
belum tentu mengalami kegembiraan atau kebahagiaan dalam hidupnya.
Tampaknya
untuk sukses dalam kehidupan ini, ada macam-macam segi yang perlu dilihat dan
diperhatikan. Kepandaian logis dan kemampuan vokal yang sering dominan dalam
menentukan IQ bukakanlah satu-satunya jaminan kesuksesan hidup, tentu saja
apabila kita melihat kehidupan ini secara lebih menyeluruh, dan bukanya
partial. Sebagai contoh nyata bahwa masyarakat hanya memandang kecerdasan
intelektual yang paling penting yang diuraikan Suparno dalam bukunya Teori Inteligensi Ganda dan Aplikasinya di
Sekolah tentang kisah temannya yang sangat antusias mendorong anaknya
menjadi seorang profesor sedangkan anaknya sendiri tertari dalam bidang seni. Temanya
memiliki anak yang masih kecil. Ia begitu antusias untuk menjadikan anaknya
seorang profesor, menjadi pemikir yang ulung dalam suatu bidang sains. Padahal
anaknya lebih tertarik pada bernyanyi dan menari. Ia tidak rela apabila anaknya
menjadi ahli musik karena ia mengganggap bahwa pekerjaan tersebut rendah dan
tidak menjamin kesuksesan daripada seorang profesor ilmu pengetahuan. Seorang
teman yang lain juga memaks anaknya untuk belajar IPA dan masuk jurusan IPA
sewaktu di SMU. Pada kenyataannya saat anak tersebut masuk jurusan IPA ia tidak
dapat mengikuti pelajaran dengan baik dan menjadi stres berat, dan akhirnya
gila. Orang tuanya kecewa berat, karena anaknya menjadi stres dan gila karena
pilihan yang tidak tepat (Suparno, 2004: 12-13)
Orang
tua merasa bahwa IPA adalah yang terbaik dan lebih menjamin kesuksesan. Padahal
itu belum tentu. Kadang ada juga guru atau kepala sekolah yang dengan
bersemangat memaksa anak didiknya untuk masuk IPA saja, tanpa menanyakan minat
dan bakatnya. Pilihan jurusan di sekolah menengah pun masih banyak didasarkan
pada yang pandai masuk IPA dan yang kurang pandai masuk bahasa; jarang yang
memperhatikan bakat dan minat anak.
Secara
umum mereka menganggap inteligensi
matematis-logis yang dominan dalam IPA ataupun sains lebih tinggi daripada
intelegensi lain, misalnya intelegensi musikal. Itulah satu-satunya yang
dianggap tinggi dan seluruh energi diarahkan ke sana. Sebenarnya orang memiliki
inteligensi yang bermacam-macam. Gardner dan rekan-rekannya di Harvard University
menyatakan bahwa inteligensi bukanlah tunggal, melainkan banyak (Suparno, 2004:
14).
Dalam
praktek pembelajaran pun terjadi hal yang kurang membantu anak didik untuk
berkembang. Kebanyakan guru matematika atau IPA mengajar dengan cara yang
metematis dan logis, yaitu dengan rumus dan latihan soal. Cara mengajar yang
dominan ini akan menguntungkan anak-anak yang memiliki inteligensi
matematis-logis dan merugikan anak yang inteligensinya tidak menonjol di situ.
Hal ini akan mengakibatkan anak merasa tidak pernah diajar di sekolah oleh
gurunya. Bukan karena gurunya tidak mengajar, melainkan karena guru hanya
mengajar dengan inteligensi yang tidak cocok dengan inteligensi dominan anak
didik. Maka, anak tidak akan mengerti, merasa bosan, dan merasa tidak
diperhatikan. Akibatnya pengetahuan anak menjadi tidak berkembang.
Menurut
teori inteligensi ganda seorang anak akan dapat mempelajari materi apa pun,
asal materi itu disampaikan sesuai dengan inteligensi yang cocok dengan inteligensi
yang menonjol pada anak itu (Suparno, 2004: 14). Gardener, dengan bantuan
mahasiswanya, telah mengadakan penelitian pada banyak sekolah di Amerika
Serikat. Mereka menemukan bahwa sebagian anak tidak dapar berkembang dalam
mempelajari beberapa mata pelajaran karena banyak guru yang tidak mengajar
sesuai dengan inteligensi siswa yang dominan (Suparno, 2004: 15). Sebaliknya,
banyak siswa yang menjadi sangat maju dalam belajarnya setelah mereka dibantu
oleh guru dalam pendekatan yang sesuai dengan inteligensi siswa. Maka, pada
banyak sekolah dianjurkan agar guru mengubah model pembelajaran mereka, bukan
disesuaikan dengan inteligensi guru, melainkan dengan inteligensi siswa
(Suparno, 2004: 15).
Dalam
penelitiannya, Gardner menemukan bahawa meskipun siswa hanya menonjol pada
beberapa inteligensi, mereka dapat dibantu lewat pendidikan dan bantuan guru
untuk mengembangkan inteligensi yang lain, sehingga dapat digunakan dalam
mengembangkan hidup yang lebih menyeluruh (Suparno, 2004: 15). Penelitian
Gardner juga membuktikan bahwa guru yang hanya menonjol pada inteligensi tertentu
dan mengajar dengan inteligensi tersebut dapat dibantu untuk mengembangkan
inteligensi yang lain dan dapat menggunakannya dalam pembelajaran membantu
siswa (Suparno, 2004: 15).
Dengan
demikian siswa dan guru dapat mengembangkan inteligensi mereka yang belum
berkembang. Hal ini menggambarkan bahwa pendidikan berperan penting dalam
sebuah perkembangan inteligensi. Cukup jelas bagi Gardner, inteligensi
seseorang dapat berkembang lewat pendidikan. Inteligensi bukanlah sesuatu yang
sudah mati yang tidak dapat dikembangkan lagi, seperti sering dikatakan
mengenai IQ seseorang (Suparno, 2004: 15).
B.
Pandangan Gardner Mengenai Inteligensi
Gardner
melakukan penelitian tentang perkembangan kapasitas kognitif manusia. Dia telah
mendobrak tradisi umum teori kecerdasan yang menganut dua asumsi dasar, bahwa
kognitif manusia itu bersifat satuan dan bahwa setiap individu dapat dijelaskan
sebagai makhluk yang memiliki kecerdasan yang dapat diukur dan tunggal. Dalam
studinya tentang kapasitas manusia, Gardner mengembangkan kriteria untuk
mengukur apakah bakat itu benar-benar suatu kecerdasan (Campbell, 2006: 1).
Penelitian
Gardner telah menguap rumpun kecerdasan manusia yang lebih luas daripada
kepercayaan manusia sebelumnya, serta menghasilkan definisi tentang konsep
kecerdasan yang sungguh pragmatis dan menyegarkan (Campbell, 2006: 2). Gardner
mendefinisikan inteligensi sebagai kemampuan untuk memecahkan persoalan dan
menghasilkan produk dalam suatu setting yang bermacam-macam dan dalam situasi
yang nyata (Suparno, 2004: 17). Gardner tidak memandang “kecerdasan” manusia
berdasarkan tes standar semata, namun Gardner menjelaskan kecerdasan sebagai berikut:
·
Kemampuan untuk
menyelesaikan masalah yang terjadi dalam kehidupan manusia
·
Kemampuan untuk
menghasilkan persoalan-persoalan baru untuk diselesaikan
·
Kemampuan untuk
menciptakan sesuatu atau menawarkan jasa yang akan menimbulkan penghargaan
dalam budaya seseorang (Campbell, 2006: 2).
Dalam pengertian
di atas sangat jelas bahwa inteligensi bukan hanya kemampuan seseorang untuk
menjawab suatu tes IQ dalam kamar tetutup yang lepas dari lingkungannya
(Suparno, 2006: 17-18).
Bagi
Gardner, suatu kemampuan disebut inteligensi apabila menunjukkan suatu
kemahiran dan keterampilan seseorang untuk memecahkan persoalan dan kesulitan
yang ditemukan dalam hidupnya (Suparno, 2004: 21). Selanjutnya dapat pula
menciptakan suatu produk yang baru, dan bahkan dapat menciptakan persoalan
baru. Jadi, kemampuan itu ada unsur pengetahuan dan keahlian. Kemampuan itu
sungguh mempunyai dampak, yaitu dapat memecahkan persoalan yang dialami dalam
kehidupan nyata. Gardner menjelaskan bahwa kemampuan-kemampuan manusia yang
dimasukkan dalam inteligensi ganda haruslah memenuhi delapan kriteria. Delapan
kriteria itu adalah sebagai berikut :
1. Terisolasi dalam bagian otak tertentu
2. Kemampuan itu independen
3. Memuat satuan operasi khusus
4. Mempunyai sejarah perkembangan sendiri
5. Berkaitan dengan sejarah evolusi zaman dulu
6. Dukungan psikologi eksperimental
7. Dukungan dari penemuan psikometrik
8. Dapat disimbolkan (Suparno, 2004: 22-25).
Gardner
membedakan antara inteligensi lama yang diukur dengan IQ dan inteligensi ganda
yang dia temukan. Dalam pengertian lama, inteligensi seseorang dapat diukur
dengan tes tertulis (tes IQ); IQ seseorang tetap sejak lahir dan tidak dapat
dikembangkan secara signifikan; yang menonjol dalam IQ adalah kemampuan
matematis-logis dan linguistik. Sedangkan menurut Gardner, inteligensi
seseorang bukan hanya diukur dengan tes tertulis, melainkan lebih cocok dengan
cara bagaimana manusia itu memecahkan persoalan dalam hidup nyata; inteligensi
seseorang dapat dikembangkan dengan pendidikan, dan inteligensi itu banyak
jumlahnya (Suparno, 2004: 19).
Gardner
menemukan banyak sekali kemampuan manusia yang kiranya dapat dimasukkan dalam
pengertiannya tentang inteligensi. Dia menemukan adanya tujuh inteligensi yang
dimiliki manusia, yaitu:
1.
Inteligensi
linguistik (liguistic intelligence)
2.
Inteligensi
matematis-logis (logical-mathematical
intelligence)
3.
Inteligensi
ruang (spatial intelligence)
4.
Inteligensi
kinestetik-badani (bodily-kinesthetic
intelligence )
5.
Inteligensi
musikal (musical intelligence)
6.
Inteligensi
interpersonal (interpersonal intelligence)
7.
Inteligensi
intrapersonal (intrapersonal intelligence).
Pada bukunya intelligence reframed, ia menambahkan
adanya dua inteligensi baru, yaitu
8.
Inteligensi
lingkungan atau naturalis (naturalist
intelligence)
9.
Inteligensi
eksistensial (existential intelligence)
Maka, saat ini
ada sembilan inteligensi yang diterima oleh Gardner (Suparno, 2004: 19).
C.
Teori Inteligensi Ganda oleh Gardner
Dalam
bukunya Frames of Mind tahun 1983 Gardner menampilkan Theory of
Multiple Inteligence yang memperkuat
perspektifnya tentang kognisi manusia (Campbell, 2006: 2). Kecerdasan adalah
bahasa-bahasa yang dibicarakan oleh semua orang dan sebagian dipengaruhi oleh
kebudayaan di mana ia dilahirkan. Merupakan alat untuk belajar, menyelesaikan
masalah, dan menciptakan semua hal yang bisa digunakan manusia.
Gardner
mengungkapkan bahwa kecerdasan seharusnya tidak terbatas pada apa yang telah ia
jelaskan. Namun ia menyakini bahwa kecerdasan memberikan gambaran kapasitas
manusia yang jauh lebih akurat daripada teori “kecerdasan tunggal” (Campbell,
2006: 3). Kebalikan dengan deret kemampuan yang diukur oleh tes IQ standar,
teori Gardner memperluas image yang berarti bagi manusia. Ia juga menegaskan
bahwa kecerdasan mengandung beberapa sub-kecerdasan (Campbell, 2006: 3).
Pada
bab ini akan menjelaskan empat kecerdasan yang dikemukakan oleh Gardner, yaitu
inteligensi verbal-linguistik, inteligensi matematis-logis, inteligensi
ruang-visual, dan inteligensi kinestik-badani.
I.
Inteligensi Verbal-Linguistik
Sandburg menjelaskan inteligensi
(kecerdasan) verbal-linguistik, seperti dia menjelaskan sensitivitasnya pada
suara, ritme, dan arti kata serta kecintaan sepanjang hidupnya untuk belajar
mengekspresikan dirinya dalam tulisannya. Gardner mengungkapkan bahwa bahasa
adalah “contoh kecerdasan manusia yang utama”, yang sangat diperlukan bagi
masyarakat manusia (Campbell, 2006: 10). Gardner juga menjelaskan inteligensi
verbal-linguistik sebagai kemampuan untuk menggunakan dan mengolah kata-kata
secara efektif baik secara oral maupun tertulis seperti dimiliki para pencipta
puisi, editor, jurnalis, dramawan, sastrawan, pemain sandiwara, maupun orator
(Suparno, 2004: 26).
Di
awal sejarah manusia, bahasa merubah spesialisasi dan fungsi otak manusia
dengan menawarkan kemungkinan-kemungkinan untuk menggali dan mengembangkan
kecerdasan manusia. Membaca telah memungkinkan manusia untuk mengetahui obyek,
tempat, proses, dan konsep yang secara personal kita tidak mengalaminya, dan
menulis dapat menyebabkan manusia untuk berkomunikasi dengan yang lainnya yang
belum pernah saling bertemu. Kemampuan berpikir melalui kata-kata, manusia
dapat mengingat, menganalisis, menyelesaikan masalah, merencanakan ke depan dan
mencipta sesuatu (Campbell, 2006: 10).
Orang
yang memiliki kecerdasan verbal-linguistik yang tinggi, memiliki
karakteristik-karakteristik sebagai berikut:
1.
Mendengar dan
merespon setiap suara, ritme, warna dan berbagai ungkapan kata.
2.
Meniru suara,
bahasa, membaca, dan menulis dari orang lainnya.
3.
Belajar melalui
menyimak, membaca, menulis dan diskusi.
4.
Menyimak secara
efktif, memahami, menguraikan, menafsirkan dan mengingat apa yang diucapkan.
5.
Membaca secara
efektif,memahami, meringkas, menafsirkan atau menerangkan, dan mengingat apa
yang telah dibaca.
6.
Berbicara secara
efektif kepada berbagai pendengar, berbagai tujuan, dan mengetahui cara
berbicara secara sederhana, fasih, persuasif, atau bergairah pada waktu-waktu
yang tepat.
7.
Menulis secara
efektif, memahami dan menerapkan aturan-aturan tata bahasa, ejaan, tanda baca,
dan menggunakan kosakata yng efektif.
8.
Memperlihatkan
kemampuan untuk mempelajari bahasa lainnya.
9.
Menggunakan
keterampilan menyimak, berbicara, menulis dan membaca untuk mengingat,
berkomunikasi, berdiskusi, menjelaskan, mempengaruhi, menciptakan pengetahuan,
menyusun makna, dan menggambarkan bahasa itu sendiri.
10. Berusaha untuk mengingatkan pemakaian bahasanya
sendiri.
11. Menunjukkan minat pada jurnalisme, puisi, bercerita,
debat, berbicara, menulis atau menyunting.
12. Menciptakan bentuk-bentuk bahasa baru atau karya
tulis orisinil atau komunikasi oral (Campbell, 2006: 12-13).
Persoalan
keterampilan-keterampilan verbal sudah banyak diteliti dan ditulis, pada bab
ini tidak membahas pendahuluan dan dasar-dasar pengajaran, tetapi menyoroti
cara-cara penting untuk latihan dan pengembangan verbal ini. Strategi-strategi
khusus yang dijelaskan dalam bab ini mencakup:
1.
Mendengar untuk
belajar
Bagi
orang-orang yang bisa mendengar, suara manusia memberikan pengalaman pertama
pada bahasa. Kebanyakan manusia hanya menyimpan seperempat apa yang mereka
dengar kecuali mereka telah mengembangkan keterampilan-keterampilan mendengar
secara lebih efisien.
·
Mendengar cerita
dan membaca nyaring
Bercerita
dan membaca nyaring merupakan cara yang berguna dalam melibatkan minat dan
mempermudah pembelajaran disemua pelajaran, seperti pelajaran sejarah dapat
dibawa ke kehidupan melalui anekdot atau melalui jurnah tokoh –para sejarah.
Pelajaran sains dapat ditampilkan dengan cerita-cerita penemuan yang penting.
·
Mendengar puisi
Seperti
halnya bercerita dan membaca nyaring, kehidupan pria dan wanita terkenal dapat
menghidupkan pembelajaran, begitupun penggunaan puisi. Sajak pendek dalam puisi
dapat memperkenalkan banyak kurikulum.
·
Mendengar
ceramah
Ceramah
merupakan salah satu cara yang paling efektif untuk mennyajikan informasi pada
siswa dalam kelompok yang besar. Ceramah akan terus digunakan oleh siswa untuk
dapat menemukan cara terbaik dalam mendengar dan belajar dari ceramah-ceramah
orang lain.
2.
Berbicara
Berbicara
yang efektif tidak hanya melibatkan kata-kata yang kita gunakan, tapi cara yang
digunakan, nada suara, ekspresi wajah, sikap dan gerakan tubuh (Campbell, 2006:
21).
3.
Membaca
Ketika
banyak program yang menawarkan petunjuk dalam meningkatkan keterampilan membaca
dan memahami bacaan secara spesifik, James Moffett seorang spesialis seni
bahasa dan co-pengarang buku Student-Centered language Arts K-12
menyatakan, bahwa persoalan-persoalan membaca disebabkan karena rendahnya
motivasi untuk membaca. Untuk meningkatkan pemahaman, Moffett menekankan arti
penting pemberian peluang untuk menyelesaikan bacaan, mengingat isinya, dan
menarik kesimpulan dari apa yang telah dibaca (Campbell, 2006: 29).
4.
Menulis
Menulis didorong oleh kegiatan
berbicara, mendengar dan membaca. Menulis membawa ide-ide dari seseorang dengan
tujuan dan makna yang berbeda-beda (Campbell, 2006: 29-30).
II. Inteligensi
Matematis-Logis
Menurut Gardner, inteligensi
matematis-logis adalah kemampuan yang lebih berkaitan dengan penggunaan
bilangan dan logika secara efektif, seperti dipunyai seorang matematikus,
saintis, programer, dan logikus (Suparno, 2004: 29). Gardner menekankan bahwa inteligensi
logis-matematis bukanlah kebutuhan yang tinggi (superior) dibandingkan
inteligensi-inteligensi yang lain dan bukan pula yang paling tinggi (Campbell,
2006: 40). Gardner mendeskripsikan inteligensi logis-matematis yang mencakup
beberapa macam pikiran, yaitu matematika, ilmu pengetahuan (sains) dan logika.
Orang yang kuat dalam inteligensi matematis-logis dapat melakukan tugas
memikirkan sistem-sistem yang abstrak, seperti matematika dan filsafat.
Tokoh-tokoh yang menonjol dalam inteligensi matematis-logis misalnya Eistein
(ahli fisika), John Dewey (ahli pendidikan), Bertrand Russell (filsuf), Stephen
Hawking (ahli fisika), dan Habibie (mantan presiden Indonesia ahli pesawat
terbang).
Hal
di bawah ini memungkinkan inteligensi logis-matematis seseorang dapat
berkembang dengan baik:
1.
Merasakan
berbagai tujuan dan fungsi mereka dalam lingkungannya.
2.
Mengenal
konsep-konsep yang bersifat kuantitas,waktu dan hubungan sebab dan akibat.
3.
Menggunakan
simbol-simbol abstrak untuk menunjukkan secara nyata (kongkrit), baik obyek
maupun konsep-konsep.
4.
Menunjukkan
keterampilan memecahkan masalah secara logis.
5.
Memahami
pola-pola dan hubungan-hubungan.
6.
Mengajukan dan
menguji hipotesis.
7.
Menggunakn
berbagai macam keterampilan matematis seperti memperkirakan, perhitungan
alogaritme, menafsirkan statistik, dan menggambarkan informasi visual dalam
bentuk grafis.
8.
Menyukai operasi
yang kompleks seperti kalkulus, fisika, pemograman komputer, atau metode
penelitian.
9.
Berfikir secara
matematis dengan mengumpulkan bukti, membuat hipotesis, merumuskan berbagai
model, mengembangkan contoh-contoh tandingan, dan membuat argumen-argumen yang
kuat.
10. Menggunakn teknologi untuk memecahkan masalah
matematis.
11. Mengungkapkan ketertarikan dalam karir-karir seperti
akuntansi, teknologi komputer, hukum, mesin, ilmu kimia.
12. Menciptakan model-model baru atau memahami wawasan
baru dalam ilmu pengetahuan alam atau matematika (Campbell, 2006: 41).
Matematika tidak hanya sebagai mata
pelajaran dalam mengembangkan kemampuan berhitung tetapi juga termasuk dalam
penyelesaian masalah, pertimbangan dan membuat hubungan-hubungan, merupakan
keterampilan yang bermanfaat bagi pelajaran yang lain. Dalam matematis-logis
juga menekankan logika sebagai suatu disiplin akademik yang dikemukakan oleh
Ariestoteles (Campbell, 2006: 44). Logika formal berguna untuk menerangkan
logika dan untuk menguji suatu argumen. Argumen secara logis terdiri dari 2
pernyataan, yaitu dasar pikiran dan kesimpulan. Logika yang umum dibagi menjadi
2, yaitu logika deduktif dan logika induktif. Jalan pikiran orang yang
mempunyai inteligensi matematis-logis yang baik adalah pikirannya bernalar dan
dengan mudah mengembangkan pola sebab akibat. Bila menghadapi suatu persoalan,
ia akan lebih dulu menganalisis secara sistematis, baru kemudian mengambil
langkah untuk memecahkan persoalan tersebut (Suparno, 2004: 29).
III.
Inteligensi Ruang-Visual
Menurut
Gardner inteligensi ruang-visual adalah kemampuan untuk menangkap dunia
ruang-visual secara tepat, seperti dipunyai para pemburu, arsitek, navigator, dan
dekorator (Suparno, 2004: 31). Termasuk di dalamnya adalah kemampuan untuk
mengenal bentuk dan benda secara tepat, melakukan perubahan itu, menggambarkan
suatu hal atau benda dalam pikiran dan mengubahnya dalam bentuk nyata, serta
mengungkapkan data dalam suatu grafik.
Inteligensi
ruang-visual juga memuat tentang kepekaan tehadap keseimbangan, relasi, warna,
garis, bentuk, dan ruang. Orang yang memiliki inteligensi ruang-visual yang
tinggi mempunyai persepsi yang tepat tentang suatu benda dengan ruang di
sekitarnya. Dalam kehidupan biasa, orang yang kuat dalam inteligensi
ruang-visual dengan mudah akan menemukan jalan dalam ruang dan suatu tempat, ia
melihat peta kota dengan mudah akan menemukan jalan dalam ruang dan suatu
tempat, ia melihat peta kota dengna mudah. Ia tidak mudah bingung bila berada
di suatu daerah karena akan dapat mencari jalan keluar kembali.
Orang
yang kuat dalam intelegensi ruang-visual dapat dengan baik melakukan pekerjaan
seperti menggambar, melukis, memahat, menghargai hasil seni, membuat peta dan
membaca peta, menemukan jalan dalam lingkungan baru, mengerti dimensi tiga, dan
lain sebagainya. Beberapa tokoh yang kuat dalam inteligensi ruang-visual adalah
Pablo Picasso (pelukis), Sidharta (pemahat), Affandi (pelukis di Yogyakarta), dan
Michaelangelo (pelukis) (Suparno, 2004: 33).
Robert
McKim dalam bukunya, Experiences in
Visual Thingking, menyatakan bahwa pemikiran visual meliputi semua kegiatan
manusia (Campbell, 2006: 109). Pemikiran ini tidak semata-mata milik artis
tetapi juga ahli matematika, tukang kayu, ahli mekanik, pelatih sepak bola, dan
lain-lain. beberapa cara dibawah ini memungkinkan inteligensi ruang-visual anak
berkembang dengan baik :
§ Belajar dengan melihat dan mengamati.
§ Mengarahkan dirinya pada benda-benda secara efektif dalam ruangan.
§ Merasakan dan menghasilkan sebuah bayangan-bayangan
mental, berpikir dalam gambar, dan memvisualisasikan detail.
§ Membaca grafik, bagan, peta, dan diagram.
§ Menikmati gambar-gambar tak beraturan, lukisan, atau
ukiran.
§ Menikmati bentukan hasil tiga dimensi, seperti
obyek-obyek origami, jembatan tiruan, rumah, atau wadah.
§ Melihat hal atau benda dengan cara-cara yang berbeda
atau dari “prespektif baru”.
§ Merasakan pola-pola lembut maupun rumit.
§ Menciptakan gambaran nyata atau visual dari informasi.
§ Cakap mendesain secara abstrak atau
representasional.
§ Mengekspresikan ketertarikan atau keahlian dalam
menjadi seorang artis, fotografer, teknisi, videografer, arsitek, atau karir
lain yang berorientasi-visual.
§ Menciptakan bentuk-bentuk baru dari media
visual-spasial atau karya seni asli.
McKim
mengidentifikasi tiga komponen yang luas dari gambaran visual yaitu gambaran
eksternal yang kita rasakan, gambaran internal yang kita impikan atau kita bayangkan,
dan jenis gambaran yang kita ciptakan melalui gambar tak beraturan (Campbell,
2006: 110). Pada bab ini dijelaskan strategi-strategi pembelajaran untuk membantu
anak mengembangkan inteligensi ruang-visual. Pertama, membangun lingkungan
belajar visual. Dengan sedikit pemikiran ke masa depan, usaha, dan bantuan dari
siswa sendiri, kelas dapat ditransformasikan ke dalam lingkungan yang
menyenangkan secara estetis.
Kedua,
mendukung pembelajaran dengan bagan, diagram, atau foto. Reprsentasi bergambar
dari informasi tersebut menawarkan fungsi pendidikan yang bernilai: mereka
mempresentasikan, menilai, meginterprestasikan, manipulasi bentuk, dan
menunjukkan data. Beberapa bentuk visual mempertinggi instruksi-instruksi
sebagaimana konsep-konsep guru yang sedang dijelaskan. Tampilan gambar
memberikan siswa secara visual untuk memahami dan mengkomunikasikan apa yang
telah mereka pelajari. Selain kedua cara tersebut masih ada banyak lagi yang
dapat digunakan untuk membuat intelegensi ruang-visual anak di sekolah menjadi
berkembang.
IV.
Inteligensi Kinestik-Badani
Menurut
Gardner inteligensi kinestik-badani adalah kemampuan menggunakan tubuh atau
gerak tubuh untuk mengekspresikan gagasan dan perasaan seperti ada pada aktor,
atlet, penari, pemahat, dan ahli bedah (Suparno, 2004: 34). Dalam inteligensi
ini termasuk keterampilan koordinasi dan fleksibilitas tubuh. Inteligensi ini
termasuk dalam kemapuan untuk menyatukan tubuh dan pikiran untuk menyempurnakan
pementasan fisik (Campbell, 2006: 75). Orang yang memiliki inteligensi
kinestik-badani dengan mudah dapat mengungkapkan diri dengan gerak tubuh
mereka. Mereka juga mudah memainkan mimik, drama, dan peran. Mereka juga dengan
mudah dan cepat melakukan gerak tubuh dalam olahraga dengan segala macam
variasinya.
Secara
sederhana, mereka dapat menyalurkan apa yang mereka hidupi dengan gerak tubuh.
Orang yang kuat dalam inteligensi ini sangat baik dalam menjalankan operasi
bila seorang dokter bedah. Tokoh yang kuat dalam inteligensi kinestik-badani,
yaitu Martha Graham (penari balet), Charlie Chaplin (pemain pantomim yang
ulung), Dustin Hoffman (aktor film), dan Martina Navratilova (pemain tenis)
(Suparno, 2004: 35).
Menurut
Gardner, barangsiapa yang memiliki kemampuan untuk menggunakan keseluruhan
tubuh mereka atau paling tidak sebagian dari tubuh mereka untuk memecahkan
masalah adalah merupakan pengembangan dari inteligensi kinestik (Campbell,
2006: 76). Berikut ini akan mengidentifikasi karakteristik potensial dari
individu-individu dengan kecerdasan kinestik.
·
Menjelajahi
lingkungan dan sasaran melalui sentuhan dan gerakan. Mempersiapkan untuk
menyentuh, menangani atau memainkan apa yang akan menjadi bahan untuk
dipelajari.
·
Mengembangkan kerjasama
dan rasa terhadap waktu.
·
Belajar lebih
baik, dengan langsung terlibat dan berpartisipasi.
·
Menikmati secara
konkrit dalam mempelajari pengalaman-pengalamn.
·
Menunjukkan keterampilan,
dalam arti menggerakkan kelompok besar ataupun kecil.
·
Menjadi sensitif
dan responsif terhadap lingkungan dan sistem secara fisik.
·
Mendemonstrasikan
keahlian dalam berakting, atletik, menari, menjahit, mengukir ukiran, atau
memainkan alat musik.
·
Mempunyai
kemampuan untuk memperbaiki segala sesuatu, dan sempurna secara pementasan
fisik melalui perpaduan antara pikiran dan tubuh.
·
Mengerti dan
hidup dalam standar kesehatan fisik.
·
Dapat
mengekspresikan ketertarikan dalam berkarir.
·
Menemukan
pendekatan baru dalam kemampuan fisik atau menciptakan bentuk-bentuk baru dalam
menari, berolah raga atau kegiatan fisik lainnya.
BAB III
PENUTUP
1.
Pandangan
masyarakat mengenai inteligensi adalah mereka percaya bahwa seseorang yang
memiliki IQ tinggi, maka ia akan sukses dalam hidupnya. Oleh karena itu,
pengukuran IQ sejak lama menjadi penting dalam menentukan kemungkinan seseorang
akan sukses. Dalam kenyataannya sekarang ini kesuksesan seseorang tidak dapat
ditentukan oleh IQ yang tinggi. Orang dengan IQ tinggi tetapi karena emosinya
tidak stabil akan mengalami kegagalan. Hal ini dikarenakan emosinya tidak dapat
berkembang dengan baik. Sebaliknya, apabila orang dengan IQ rendah tetapi
karena ketekunan dan emosinya yang seimbang akan sukses dalam belajar maupun
bekerja. Apabila kita melihat kenyataan yang ada dalam kehidupan masyarakat
sekarang ini, orang tua dan banyak orang termasuk guru lebih menekankan
pentingnya IPA dan sains. Secara umum mereka mengganggap bahwa inteligensi matematis-logis yang dominan dalam IPA ataupun
sains lebih tinggi daripada intelegensi lainnya. Hal ini terbukti bahwa para
orang tua berlomba-lomba mendorong anaknya masuk dalam jurusan IPA pada
penjurusan di SMA, tanpa melihat minat dan bakat pada diri anaknya.
2. Gardner
memandang inteligensi sebagai sebuah kemampuan untuk memecahkan persoalan dan
menghasilkan produk dalam suatu seting yang bermacam-macam dan dalam situasi
yang nyata (Suparno, 2004: 17). Dalam pengertian tersebut dijelaskan bahwa
bukan hanya kemampuan seseorang untuk menjawab suatu tes IQ di sebuah ruangan
tertutup yang lepas dari lingkungannya. Inteligensi memuat kemampuan untuk
memecahkan persoalan yang nyata dalam situasi yang bermacam-macam. Bagi
Gardner, kemampuan disebut inteligensi bila menunjukkan suatu kemahiran dan
keterampilan seseorang untuk memecahkan persoalan dan kesulitan yang ditemukan
dalam hidupnya.
3.
Teori inteligensi ganda yang dikemukakan
oleh Gardner mencakup sembilan inteligensi. Kesembilan inteligensi ini dapat
ditingkatkan dan dikembangkan secara memadai sehingga dapat berfungsi dengan
baik. Kesembilan inteligensi tersebut adalah yang pertama, inteligensi verbal-linguistik.
Inteligensi verbal-linguistik memuat mengenai kemampuan dalam menggunakan dan
mengolah kata-kata secara efektif baik secara oral maupun tertulis. Orang yang
kuat dalam inteligensi ini akan mempu berbahasa secara lancar, baik, dan
lengkap. Mereka akan mudah mengembangkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa.
Kedua, inteligensi matematis-logis yaitu kemampuan yang lebih berkaitan dengan
penggunaan bilangan dan logika secara efektif. Inteligensi matematis-logis
memuat kepekaan pada pola logika, abstraksi, kategorisasi, dan perhitungan.
Ketiga, adalah inteligensi ruang-visual yaitu kemampuan untuk menangkap dunia ruang-visual
secara tepat, termasuk di dalamnya adalah kemampuan untuk mengenal bentuk dan
benda secara tepat, melakukan perubahan itu, menggambarkan suatu hal atau benda
dalam pikiran dan mengubahnya dalam bentuk nyata, serta menggungkapkan data
dalam bentuk grafik (Suparno, 2004: 31), yang keempat adalah inteligensi
kinestik-badani yaitu kemampuan
menggunakan tubuh atau gerak tubuh untuk mengekspresikan gagasan dan perasaan
(Suparno, 2004: 34). Selain keempat inteligensi tersebut
ada pula inteligensi musikal, inteligensi interpersonal, inteligensi
intrapersonal, inteligensi lingkungan, dan inteligensi eksistensial. Inteligensi
ini dapat berkembang dalam proses pembelajaran dan pengalaman-pengalaman
tersendiri. Di sinilah pendidikan mempunyai fungsi, yakni membantu agar setiap
inteligensi pada diri seseorang berkembang secara optimal.
DAFTAR REFERENSI
Campbell, L., Campbell, B. &
Dickinson, D. (2006). Metode praktis
pembelajaran berbasis multiple intelligences. Depok: Intuisi.
Suparno, P. (2004). Teori inteligensi ganda dan aplikasinya di sekolah. Yogyakarta:
Kanisius.