Selasa, 24 Mei 2016

TEORI INTELIGENSI GANDA OLEH GARDNER TERKAIT DENGAN KECERDASAN MENGENAI OBJEK



MAKALAH LANDASAN PENDIDIKAN

TEORI INTELIGENSI GANDA OLEH GARDNER TERKAIT DENGAN KECERDASAN MENGENAI OBJEK
Dosen Pengampu : Gregorius Ari. N., SJ., M.A.


Disusun oleh :
Kelompok 7 (Kelas 2-E)
1.      Gabriella Muna Yulinar          (141134218)
2.      Vicensia Nataliardila               (141134219)
3.      Maria Krusita                          (141134220)



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
JURUSAN ILMU PENDIDIKAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
2015


         Puji syukur senantiasa kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini dengan baik dan lancar.
         Penulisan makalah ini dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah landasan pendidikan. Adapun makalah ini membahas mengenai teori inteligensi ganda menurut Gardner mengenai kecerdasan terkait objek. Makalah ini telah kami usahakan semaksimal mungkin dan tentunya dengan bantuan dari berbagai sumber. Untuk itu kami tidak lupa menyampaikan terima kasih kepada semua sumber yang telah memberikan informasi sehingga sangat membantu kami dalam menyelesaikan makalah ini.
          Tidak lepas dari itu semua, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih banyak kekurangan dalam makalah ini baik dari segi penyusunan bahasa maupun dari segi lainnya. Oleh karena itu kritik dan saran sangat diharapkan dari para pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
          Semoga apa yang telah kami sampaikan dalam makalah ini berguna untuk menambah wawasan pengetahuan khususnya bagi kami sendiri, umumnya bagi pembaca.


Yogyakarta, 07 April 2015


Penulis


BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang Masalah
Manusia diciptakan dengan akal budi. Dengan akal budi tersebut manusia akan berpikir untuk mencapai kepenuhan dirinya. Kemampuan berpikir ini akan berkembang sesuai dengan usia dan pengalaman manusia itu sendiri.  Kemampuan berpikir manusia diwujudkan dalam sebuah kecerdasan atau inteligensi. Kecerdasan ini didapatkan manusia seiring dengan perkembangan dalam hidupnya.
Dalam diri manusia terdapat tiga kecerdasan, yaitu kecerdasan intelektual atau IQ, kecerdasan emosi atau EQ, dan kecerdasan spiritual atau SQ. Ketiga kecerdasan ini saling berkaitan satu sama lain untuk itu agar terjadi keseimbangan, maka ketiga kecerdasan ini harus diasah secara baik melalui suatu proses pembelajaran dan pengalaman-pengalaman tersendiri.
Menurut Piaget perkembangan kecerdasan anak dibagi ke dalam empat tahap, yaitu tahap sensori motorik (0-2 tahun), tahap praoperasional (2-7 tahun), tahap operasional konkret (7-12 tahun), dan tahap operasional formal (12 tahun ke atas). Dari tahapan ini jelas bahwa kecerdasan manusia berkembang secara bertahap dan tidak secara langsung ataupun secara acak. Saat anak-anak masuk pada tahap tertentu dan hal tersebut berkaitan dengan dunia pendidikan maka mereka akan memiliki peluang yang besar untuk mengasah kecerdasan mereka. Selain kegiatan pembelajaran, pengalaman yang dimiliki mereka juga akan mempengaruhi perkembangan kecerdasan mereka.

B.  Rumusan Masalah
1.        Bagaimanakah pandangan masyarakat mengenai inteligensi?
2.        Bagaimanakah Gardner memandang sebuah inteligensi?
3.        Bagaimanakah teori inteligensi ganda yang dikemukakan oleh Gardner?

C.  Tujuan
1.        Mengetahui pandangan masyarakat mengenai inteligensi.
2.        Mengetahui pandangan Gardner mengenai inteligensi.
3.        Mengetahui teori  inteligensi ganda yang dikemukakan oleh Gardner.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pandangan Masyarakat Mengenai Inteligensi
Banyak orang cukup lama percaya bahwa bila seseorang memiliki IQ tinggi, maka ia akan sukses dalam hidup ini (Suparno, 2004: 11). Maka pengukuran IQ sejak lama menjadi salah satu ukuran terpenting dalam menentukan kemungkinan sukses seseorang. Dalam kenyataannya sekarang ini, dapat dilihat bahwa orang yang ber-IQ tinggi belum tentu sukses dan belum tentu hidup bahagia. Orang yang ber-IQ tinggi tetapi karena emosinya tidak stabil dan mudah marah, sering kali keliru dalam menentukan dan memecahkan persoalan hidup karena tidak dapat berkonsentrasi (Suparno, 2004: 11). Emosinya yang tidak berkembang, tidak terkuasai, sering membuatnya berubah-ubah dalam menghadapi persoalan dan bersikap terhadap orang lain sehingga banyak menimbulkan konflik.
Emosi yang kurang terolah juga dengan mudah menyebabkan orang tersebut kadang sangat bersemangat menyetujui sesuatu, tetapi dalam waktu singkat berubah menolaknya, sehingga mengacaukan kerja sama yang disepakati bersama orang lain. Maka, orang tersebut mengalami kegagalan. Di lain pihak beberapa orang yang IQ-nya tidak tinggi, karena ketekunan dan emosinya yang seimbang, sukses dalam belajar maupun bekerja. Hal ini menggambarkan bahwa IQ bukanlah jaminan untuk kesuksesan seseorang, meskipun memang punya peran yang sangat penting dalam hidup seseorang, terutama dalam hal pengembangan pengetahuan (Suparno, 2004: 11). Dengan berkembangnya waktu dan keadaan orang mulai menyadari bahwa selain IQ, orang perlu memperkembangkan EQ dan SQ.
Masyarakat menganggap bahwa seseorang seperti Einstein, ahli nuklir, sangat hebat melebihi Ibu Teresa, pejuang kaum gelandangan dan orang miskin. Padahal itu tidak benar. Kita juga tidak dapat mengatakan bahwa penemu obat AIDS lebh hebat daripada pertapa yang menemukan kedalam dirinya. Bahkan, sesuatu yang disebut hebat itu belum tentu mengalami kegembiraan atau kebahagiaan dalam hidupnya.
Tampaknya untuk sukses dalam kehidupan ini, ada macam-macam segi yang perlu dilihat dan diperhatikan. Kepandaian logis dan kemampuan vokal yang sering dominan dalam menentukan IQ bukakanlah satu-satunya jaminan kesuksesan hidup, tentu saja apabila kita melihat kehidupan ini secara lebih menyeluruh, dan bukanya partial. Sebagai contoh nyata bahwa masyarakat hanya memandang kecerdasan intelektual yang paling penting yang diuraikan Suparno dalam bukunya Teori Inteligensi Ganda dan Aplikasinya di Sekolah tentang kisah temannya yang sangat antusias mendorong anaknya menjadi seorang profesor sedangkan anaknya sendiri tertari dalam bidang seni. Temanya memiliki anak yang masih kecil. Ia begitu antusias untuk menjadikan anaknya seorang profesor, menjadi pemikir yang ulung dalam suatu bidang sains. Padahal anaknya lebih tertarik pada bernyanyi dan menari. Ia tidak rela apabila anaknya menjadi ahli musik karena ia mengganggap bahwa pekerjaan tersebut rendah dan tidak menjamin kesuksesan daripada seorang profesor ilmu pengetahuan. Seorang teman yang lain juga memaks anaknya untuk belajar IPA dan masuk jurusan IPA sewaktu di SMU. Pada kenyataannya saat anak tersebut masuk jurusan IPA ia tidak dapat mengikuti pelajaran dengan baik dan menjadi stres berat, dan akhirnya gila. Orang tuanya kecewa berat, karena anaknya menjadi stres dan gila karena pilihan yang tidak tepat (Suparno, 2004: 12-13)
Orang tua merasa bahwa IPA adalah yang terbaik dan lebih menjamin kesuksesan. Padahal itu belum tentu. Kadang ada juga guru atau kepala sekolah yang dengan bersemangat memaksa anak didiknya untuk masuk IPA saja, tanpa menanyakan minat dan bakatnya. Pilihan jurusan di sekolah menengah pun masih banyak didasarkan pada yang pandai masuk IPA dan yang kurang pandai masuk bahasa; jarang yang memperhatikan bakat dan minat anak.
Secara umum mereka menganggap inteligensi matematis-logis yang dominan dalam IPA ataupun sains lebih tinggi daripada intelegensi lain, misalnya intelegensi musikal. Itulah satu-satunya yang dianggap tinggi dan seluruh energi diarahkan ke sana. Sebenarnya orang memiliki inteligensi yang bermacam-macam. Gardner dan rekan-rekannya di Harvard University menyatakan bahwa inteligensi bukanlah tunggal, melainkan banyak (Suparno, 2004: 14).
Dalam praktek pembelajaran pun terjadi hal yang kurang membantu anak didik untuk berkembang. Kebanyakan guru matematika atau IPA mengajar dengan cara yang metematis dan logis, yaitu dengan rumus dan latihan soal. Cara mengajar yang dominan ini akan menguntungkan anak-anak yang memiliki inteligensi matematis-logis dan merugikan anak yang inteligensinya tidak menonjol di situ. Hal ini akan mengakibatkan anak merasa tidak pernah diajar di sekolah oleh gurunya. Bukan karena gurunya tidak mengajar, melainkan karena guru hanya mengajar dengan inteligensi yang tidak cocok dengan inteligensi dominan anak didik. Maka, anak tidak akan mengerti, merasa bosan, dan merasa tidak diperhatikan. Akibatnya pengetahuan anak menjadi tidak berkembang.
Menurut teori inteligensi ganda seorang anak akan dapat mempelajari materi apa pun, asal materi itu disampaikan sesuai dengan inteligensi yang cocok dengan inteligensi yang menonjol pada anak itu (Suparno, 2004: 14). Gardener, dengan bantuan mahasiswanya, telah mengadakan penelitian pada banyak sekolah di Amerika Serikat. Mereka menemukan bahwa sebagian anak tidak dapar berkembang dalam mempelajari beberapa mata pelajaran karena banyak guru yang tidak mengajar sesuai dengan inteligensi siswa yang dominan (Suparno, 2004: 15). Sebaliknya, banyak siswa yang menjadi sangat maju dalam belajarnya setelah mereka dibantu oleh guru dalam pendekatan yang sesuai dengan inteligensi siswa. Maka, pada banyak sekolah dianjurkan agar guru mengubah model pembelajaran mereka, bukan disesuaikan dengan inteligensi guru, melainkan dengan inteligensi siswa (Suparno, 2004: 15).
Dalam penelitiannya, Gardner menemukan bahawa meskipun siswa hanya menonjol pada beberapa inteligensi, mereka dapat dibantu lewat pendidikan dan bantuan guru untuk mengembangkan inteligensi yang lain, sehingga dapat digunakan dalam mengembangkan hidup yang lebih menyeluruh (Suparno, 2004: 15). Penelitian Gardner juga membuktikan bahwa guru yang hanya menonjol pada inteligensi tertentu dan mengajar dengan inteligensi tersebut dapat dibantu untuk mengembangkan inteligensi yang lain dan dapat menggunakannya dalam pembelajaran membantu siswa (Suparno, 2004: 15).
Dengan demikian siswa dan guru dapat mengembangkan inteligensi mereka yang belum berkembang. Hal ini menggambarkan bahwa pendidikan berperan penting dalam sebuah perkembangan inteligensi. Cukup jelas bagi Gardner, inteligensi seseorang dapat berkembang lewat pendidikan. Inteligensi bukanlah sesuatu yang sudah mati yang tidak dapat dikembangkan lagi, seperti sering dikatakan mengenai IQ seseorang (Suparno, 2004: 15).

B.     Pandangan Gardner Mengenai Inteligensi
Gardner melakukan penelitian tentang perkembangan kapasitas kognitif manusia. Dia telah mendobrak tradisi umum teori kecerdasan yang menganut dua asumsi dasar, bahwa kognitif manusia itu bersifat satuan dan bahwa setiap individu dapat dijelaskan sebagai makhluk yang memiliki kecerdasan yang dapat diukur dan tunggal. Dalam studinya tentang kapasitas manusia, Gardner mengembangkan kriteria untuk mengukur apakah bakat itu benar-benar suatu kecerdasan (Campbell, 2006: 1).
Penelitian Gardner telah menguap rumpun kecerdasan manusia yang lebih luas daripada kepercayaan manusia sebelumnya, serta menghasilkan definisi tentang konsep kecerdasan yang sungguh pragmatis dan menyegarkan (Campbell, 2006: 2). Gardner mendefinisikan inteligensi sebagai kemampuan untuk memecahkan persoalan dan menghasilkan produk dalam suatu setting yang bermacam-macam dan dalam situasi yang nyata (Suparno, 2004: 17). Gardner tidak memandang “kecerdasan” manusia berdasarkan tes standar semata, namun Gardner menjelaskan kecerdasan sebagai berikut:
·         Kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang terjadi dalam kehidupan manusia
·         Kemampuan untuk menghasilkan persoalan-persoalan baru untuk diselesaikan
·         Kemampuan untuk menciptakan sesuatu atau menawarkan jasa yang akan menimbulkan penghargaan dalam budaya seseorang (Campbell, 2006: 2).  
Dalam pengertian di atas sangat jelas bahwa inteligensi bukan hanya kemampuan seseorang untuk menjawab suatu tes IQ dalam kamar tetutup yang lepas dari lingkungannya (Suparno, 2006: 17-18).
Bagi Gardner, suatu kemampuan disebut inteligensi apabila menunjukkan suatu kemahiran dan keterampilan seseorang untuk memecahkan persoalan dan kesulitan yang ditemukan dalam hidupnya (Suparno, 2004: 21). Selanjutnya dapat pula menciptakan suatu produk yang baru, dan bahkan dapat menciptakan persoalan baru. Jadi, kemampuan itu ada unsur pengetahuan dan keahlian. Kemampuan itu sungguh mempunyai dampak, yaitu dapat memecahkan persoalan yang dialami dalam kehidupan nyata. Gardner menjelaskan bahwa kemampuan-kemampuan manusia yang dimasukkan dalam inteligensi ganda haruslah memenuhi delapan kriteria. Delapan kriteria itu adalah sebagai berikut :
1.      Terisolasi dalam bagian otak tertentu
2.      Kemampuan itu independen
3.      Memuat satuan operasi khusus
4.      Mempunyai sejarah perkembangan sendiri
5.      Berkaitan dengan sejarah evolusi zaman dulu
6.      Dukungan psikologi eksperimental
7.      Dukungan dari penemuan psikometrik
8.      Dapat disimbolkan (Suparno, 2004: 22-25).
Gardner membedakan antara inteligensi lama yang diukur dengan IQ dan inteligensi ganda yang dia temukan. Dalam pengertian lama, inteligensi seseorang dapat diukur dengan tes tertulis (tes IQ); IQ seseorang tetap sejak lahir dan tidak dapat dikembangkan secara signifikan; yang menonjol dalam IQ adalah kemampuan matematis-logis dan linguistik. Sedangkan menurut Gardner, inteligensi seseorang bukan hanya diukur dengan tes tertulis, melainkan lebih cocok dengan cara bagaimana manusia itu memecahkan persoalan dalam hidup nyata; inteligensi seseorang dapat dikembangkan dengan pendidikan, dan inteligensi itu banyak jumlahnya (Suparno, 2004: 19). 
Gardner menemukan banyak sekali kemampuan manusia yang kiranya dapat dimasukkan dalam pengertiannya tentang inteligensi. Dia menemukan adanya tujuh inteligensi yang dimiliki manusia, yaitu:
1.      Inteligensi linguistik (liguistic intelligence)
2.      Inteligensi matematis-logis (logical-mathematical intelligence)
3.      Inteligensi ruang (spatial intelligence)
4.      Inteligensi kinestetik-badani (bodily-kinesthetic intelligence )
5.      Inteligensi musikal (musical intelligence)
6.      Inteligensi interpersonal (interpersonal intelligence)
7.      Inteligensi intrapersonal (intrapersonal intelligence).
Pada bukunya intelligence reframed, ia menambahkan adanya dua inteligensi baru, yaitu
8.      Inteligensi lingkungan atau naturalis (naturalist intelligence)
9.      Inteligensi eksistensial (existential intelligence)
Maka, saat ini ada sembilan inteligensi yang diterima oleh Gardner (Suparno, 2004: 19).

C.    Teori Inteligensi Ganda oleh Gardner
Dalam bukunya Frames of Mind tahun 1983 Gardner menampilkan Theory of Multiple  Inteligence yang memperkuat perspektifnya tentang kognisi manusia (Campbell, 2006: 2). Kecerdasan adalah bahasa-bahasa yang dibicarakan oleh semua orang dan sebagian dipengaruhi oleh kebudayaan di mana ia dilahirkan. Merupakan alat untuk belajar, menyelesaikan masalah, dan menciptakan semua hal yang bisa digunakan manusia. 
Gardner mengungkapkan bahwa kecerdasan seharusnya tidak terbatas pada apa yang telah ia jelaskan. Namun ia menyakini bahwa kecerdasan memberikan gambaran kapasitas manusia yang jauh lebih akurat daripada teori “kecerdasan tunggal” (Campbell, 2006: 3). Kebalikan dengan deret kemampuan yang diukur oleh tes IQ standar, teori Gardner memperluas image yang berarti bagi manusia. Ia juga menegaskan bahwa kecerdasan mengandung beberapa sub-kecerdasan (Campbell, 2006: 3).
Pada bab ini akan menjelaskan empat kecerdasan yang dikemukakan oleh Gardner, yaitu inteligensi verbal-linguistik, inteligensi matematis-logis, inteligensi ruang-visual, dan inteligensi kinestik-badani.


I.        Inteligensi Verbal-Linguistik
Sandburg menjelaskan inteligensi (kecerdasan) verbal-linguistik, seperti dia menjelaskan sensitivitasnya pada suara, ritme, dan arti kata serta kecintaan sepanjang hidupnya untuk belajar mengekspresikan dirinya dalam tulisannya. Gardner mengungkapkan bahwa bahasa adalah “contoh kecerdasan manusia yang utama”, yang sangat diperlukan bagi masyarakat manusia (Campbell, 2006: 10). Gardner juga menjelaskan inteligensi verbal-linguistik sebagai kemampuan untuk menggunakan dan mengolah kata-kata secara efektif baik secara oral maupun tertulis seperti dimiliki para pencipta puisi, editor, jurnalis, dramawan, sastrawan, pemain sandiwara, maupun orator (Suparno, 2004: 26). 
Di awal sejarah manusia, bahasa merubah spesialisasi dan fungsi otak manusia dengan menawarkan kemungkinan-kemungkinan untuk menggali dan mengembangkan kecerdasan manusia. Membaca telah memungkinkan manusia untuk mengetahui obyek, tempat, proses, dan konsep yang secara personal kita tidak mengalaminya, dan menulis dapat menyebabkan manusia untuk berkomunikasi dengan yang lainnya yang belum pernah saling bertemu. Kemampuan berpikir melalui kata-kata, manusia dapat mengingat, menganalisis, menyelesaikan masalah, merencanakan ke depan dan mencipta sesuatu (Campbell, 2006: 10).
Orang yang memiliki kecerdasan verbal-linguistik yang tinggi, memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut:
1.      Mendengar dan merespon setiap suara, ritme, warna dan berbagai ungkapan kata.
2.      Meniru suara, bahasa, membaca, dan menulis dari orang lainnya.
3.      Belajar melalui menyimak, membaca, menulis dan diskusi.
4.      Menyimak secara efktif, memahami, menguraikan, menafsirkan dan mengingat apa yang diucapkan.
5.      Membaca secara efektif,memahami, meringkas, menafsirkan atau menerangkan, dan mengingat apa yang telah dibaca.
6.      Berbicara secara efektif kepada berbagai pendengar, berbagai tujuan, dan mengetahui cara berbicara secara sederhana, fasih, persuasif, atau bergairah pada waktu-waktu yang tepat.
7.      Menulis secara efektif, memahami dan menerapkan aturan-aturan tata bahasa, ejaan, tanda baca, dan menggunakan kosakata yng efektif.
8.      Memperlihatkan kemampuan untuk mempelajari bahasa lainnya.
9.      Menggunakan keterampilan menyimak, berbicara, menulis dan membaca untuk mengingat, berkomunikasi, berdiskusi, menjelaskan, mempengaruhi, menciptakan pengetahuan, menyusun makna, dan menggambarkan bahasa itu sendiri.
10.  Berusaha untuk mengingatkan pemakaian bahasanya sendiri.
11.  Menunjukkan minat pada jurnalisme, puisi, bercerita, debat, berbicara, menulis atau menyunting.
12.  Menciptakan bentuk-bentuk bahasa baru atau karya tulis orisinil atau komunikasi oral (Campbell, 2006: 12-13).
Persoalan keterampilan-keterampilan verbal sudah banyak diteliti dan ditulis, pada bab ini tidak membahas pendahuluan dan dasar-dasar pengajaran, tetapi menyoroti cara-cara penting untuk latihan dan pengembangan verbal ini. Strategi-strategi khusus yang dijelaskan dalam bab ini mencakup:
1.      Mendengar untuk belajar
Bagi orang-orang yang bisa mendengar, suara manusia memberikan pengalaman pertama pada bahasa. Kebanyakan manusia hanya menyimpan seperempat apa yang mereka dengar kecuali mereka telah mengembangkan keterampilan-keterampilan mendengar secara lebih efisien.
·         Mendengar cerita dan membaca nyaring
Bercerita dan membaca nyaring merupakan cara yang berguna dalam melibatkan minat dan mempermudah pembelajaran disemua pelajaran, seperti pelajaran sejarah dapat dibawa ke kehidupan melalui anekdot atau melalui jurnah tokoh –para sejarah. Pelajaran sains dapat ditampilkan dengan cerita-cerita penemuan yang penting.
·         Mendengar puisi
Seperti halnya bercerita dan membaca nyaring, kehidupan pria dan wanita terkenal dapat menghidupkan pembelajaran, begitupun penggunaan puisi. Sajak pendek dalam puisi dapat memperkenalkan banyak kurikulum.
·         Mendengar ceramah
Ceramah merupakan salah satu cara yang paling efektif untuk mennyajikan informasi pada siswa dalam kelompok yang besar. Ceramah akan terus digunakan oleh siswa untuk dapat menemukan cara terbaik dalam mendengar dan belajar dari ceramah-ceramah orang lain.


2.      Berbicara
Berbicara yang efektif tidak hanya melibatkan kata-kata yang kita gunakan, tapi cara yang digunakan, nada suara, ekspresi wajah, sikap dan gerakan tubuh (Campbell, 2006: 21).
3.      Membaca
Ketika banyak program yang menawarkan petunjuk dalam meningkatkan keterampilan membaca dan memahami bacaan secara spesifik, James Moffett seorang spesialis seni bahasa dan co-pengarang buku Student-Centered language Arts K-12 menyatakan, bahwa persoalan-persoalan membaca disebabkan karena rendahnya motivasi untuk membaca. Untuk meningkatkan pemahaman, Moffett menekankan arti penting pemberian peluang untuk menyelesaikan bacaan, mengingat isinya, dan menarik kesimpulan dari apa yang telah dibaca (Campbell, 2006: 29).
4.      Menulis
Menulis didorong oleh kegiatan berbicara, mendengar dan membaca. Menulis membawa ide-ide dari seseorang dengan tujuan dan makna yang berbeda-beda (Campbell, 2006: 29-30).   
  II.   Inteligensi Matematis-Logis
Menurut Gardner, inteligensi matematis-logis adalah kemampuan yang lebih berkaitan dengan penggunaan bilangan dan logika secara efektif, seperti dipunyai seorang matematikus, saintis, programer, dan logikus (Suparno, 2004: 29). Gardner menekankan bahwa inteligensi logis-matematis bukanlah kebutuhan yang tinggi (superior) dibandingkan inteligensi-inteligensi yang lain dan bukan pula yang paling tinggi (Campbell, 2006: 40). Gardner mendeskripsikan inteligensi logis-matematis yang mencakup beberapa macam pikiran, yaitu matematika, ilmu pengetahuan (sains) dan logika. Orang yang kuat dalam inteligensi matematis-logis dapat melakukan tugas memikirkan sistem-sistem yang abstrak, seperti matematika dan filsafat. Tokoh-tokoh yang menonjol dalam inteligensi matematis-logis misalnya Eistein (ahli fisika), John Dewey (ahli pendidikan), Bertrand Russell (filsuf), Stephen Hawking (ahli fisika), dan Habibie (mantan presiden Indonesia ahli pesawat terbang).
Hal di bawah ini memungkinkan inteligensi logis-matematis seseorang dapat berkembang dengan baik:
1.      Merasakan berbagai tujuan dan fungsi mereka dalam lingkungannya.
2.      Mengenal konsep-konsep yang bersifat kuantitas,waktu dan hubungan sebab dan akibat.
3.      Menggunakan simbol-simbol abstrak untuk menunjukkan secara nyata (kongkrit), baik obyek maupun konsep-konsep.
4.      Menunjukkan keterampilan memecahkan masalah secara logis.
5.      Memahami pola-pola dan hubungan-hubungan.
6.      Mengajukan dan menguji hipotesis.
7.      Menggunakn berbagai macam keterampilan matematis seperti memperkirakan, perhitungan alogaritme, menafsirkan statistik, dan menggambarkan informasi visual dalam bentuk grafis.
8.      Menyukai operasi yang kompleks seperti kalkulus, fisika, pemograman komputer, atau metode penelitian.
9.      Berfikir secara matematis dengan mengumpulkan bukti, membuat hipotesis, merumuskan berbagai model, mengembangkan contoh-contoh tandingan, dan membuat argumen-argumen yang kuat.
10.  Menggunakn teknologi untuk memecahkan masalah matematis.
11.  Mengungkapkan ketertarikan dalam karir-karir seperti akuntansi, teknologi komputer, hukum, mesin, ilmu kimia.
12.  Menciptakan model-model baru atau memahami wawasan baru dalam ilmu pengetahuan alam atau matematika (Campbell, 2006: 41).
Matematika tidak hanya sebagai mata pelajaran dalam mengembangkan kemampuan berhitung tetapi juga termasuk dalam penyelesaian masalah, pertimbangan dan membuat hubungan-hubungan, merupakan keterampilan yang bermanfaat bagi pelajaran yang lain. Dalam matematis-logis juga menekankan logika sebagai suatu disiplin akademik yang dikemukakan oleh Ariestoteles (Campbell, 2006: 44). Logika formal berguna untuk menerangkan logika dan untuk menguji suatu argumen. Argumen secara logis terdiri dari 2 pernyataan, yaitu dasar pikiran dan kesimpulan. Logika yang umum dibagi menjadi 2, yaitu logika deduktif dan logika induktif. Jalan pikiran orang yang mempunyai inteligensi matematis-logis yang baik adalah pikirannya bernalar dan dengan mudah mengembangkan pola sebab akibat. Bila menghadapi suatu persoalan, ia akan lebih dulu menganalisis secara sistematis, baru kemudian mengambil langkah untuk memecahkan persoalan tersebut (Suparno, 2004: 29). 
III.   Inteligensi Ruang-Visual
Menurut Gardner inteligensi ruang-visual adalah kemampuan untuk menangkap dunia ruang-visual secara tepat, seperti dipunyai para pemburu, arsitek, navigator, dan dekorator (Suparno, 2004: 31). Termasuk di dalamnya adalah kemampuan untuk mengenal bentuk dan benda secara tepat, melakukan perubahan itu, menggambarkan suatu hal atau benda dalam pikiran dan mengubahnya dalam bentuk nyata, serta mengungkapkan data dalam suatu grafik.
Inteligensi ruang-visual juga memuat tentang kepekaan tehadap keseimbangan, relasi, warna, garis, bentuk, dan ruang. Orang yang memiliki inteligensi ruang-visual yang tinggi mempunyai persepsi yang tepat tentang suatu benda dengan ruang di sekitarnya. Dalam kehidupan biasa, orang yang kuat dalam inteligensi ruang-visual dengan mudah akan menemukan jalan dalam ruang dan suatu tempat, ia melihat peta kota dengan mudah akan menemukan jalan dalam ruang dan suatu tempat, ia melihat peta kota dengna mudah. Ia tidak mudah bingung bila berada di suatu daerah karena akan dapat mencari jalan keluar kembali.
Orang yang kuat dalam intelegensi ruang-visual dapat dengan baik melakukan pekerjaan seperti menggambar, melukis, memahat, menghargai hasil seni, membuat peta dan membaca peta, menemukan jalan dalam lingkungan baru, mengerti dimensi tiga, dan lain sebagainya. Beberapa tokoh yang kuat dalam inteligensi ruang-visual adalah Pablo Picasso (pelukis), Sidharta (pemahat), Affandi (pelukis di Yogyakarta), dan Michaelangelo (pelukis) (Suparno, 2004: 33).  
Robert McKim dalam bukunya, Experiences in Visual Thingking, menyatakan bahwa pemikiran visual meliputi semua kegiatan manusia (Campbell, 2006: 109). Pemikiran ini tidak semata-mata milik artis tetapi juga ahli matematika, tukang kayu, ahli mekanik, pelatih sepak bola, dan lain-lain. beberapa cara dibawah ini memungkinkan inteligensi ruang-visual anak berkembang dengan baik :
§  Belajar dengan melihat dan mengamati.
§  Mengarahkan dirinya pada benda-benda secara efektif  dalam ruangan.
§  Merasakan dan menghasilkan sebuah bayangan-bayangan mental, berpikir dalam gambar, dan memvisualisasikan detail.
§  Membaca grafik, bagan, peta, dan diagram.
§  Menikmati gambar-gambar tak beraturan, lukisan, atau ukiran.
§  Menikmati bentukan hasil tiga dimensi, seperti obyek-obyek origami, jembatan tiruan, rumah, atau wadah.
§  Melihat hal atau benda dengan cara-cara yang berbeda atau dari “prespektif baru”.
§  Merasakan pola-pola lembut maupun rumit.
§  Menciptakan gambaran nyata atau visual dari informasi.
§  Cakap mendesain secara abstrak atau representasional.
§  Mengekspresikan ketertarikan atau keahlian dalam menjadi seorang artis, fotografer, teknisi, videografer, arsitek, atau karir lain yang berorientasi-visual.
§  Menciptakan bentuk-bentuk baru dari media visual-spasial atau karya seni asli.
McKim mengidentifikasi tiga komponen yang luas dari gambaran visual yaitu gambaran eksternal yang kita rasakan, gambaran internal yang kita impikan atau kita bayangkan, dan jenis gambaran yang kita ciptakan melalui gambar tak beraturan (Campbell, 2006: 110). Pada bab ini dijelaskan strategi-strategi pembelajaran untuk membantu anak mengembangkan inteligensi ruang-visual. Pertama, membangun lingkungan belajar visual. Dengan sedikit pemikiran ke masa depan, usaha, dan bantuan dari siswa sendiri, kelas dapat ditransformasikan ke dalam lingkungan yang menyenangkan secara estetis.
Kedua, mendukung pembelajaran dengan bagan, diagram, atau foto. Reprsentasi bergambar dari informasi tersebut menawarkan fungsi pendidikan yang bernilai: mereka mempresentasikan, menilai, meginterprestasikan, manipulasi bentuk, dan menunjukkan data. Beberapa bentuk visual mempertinggi instruksi-instruksi sebagaimana konsep-konsep guru yang sedang dijelaskan. Tampilan gambar memberikan siswa secara visual untuk memahami dan mengkomunikasikan apa yang telah mereka pelajari. Selain kedua cara tersebut masih ada banyak lagi yang dapat digunakan untuk membuat intelegensi ruang-visual anak di sekolah menjadi berkembang.

IV.     Inteligensi Kinestik-Badani
Menurut Gardner inteligensi kinestik-badani adalah kemampuan menggunakan tubuh atau gerak tubuh untuk mengekspresikan gagasan dan perasaan seperti ada pada aktor, atlet, penari, pemahat, dan ahli bedah (Suparno, 2004: 34). Dalam inteligensi ini termasuk keterampilan koordinasi dan fleksibilitas tubuh. Inteligensi ini termasuk dalam kemapuan untuk menyatukan tubuh dan pikiran untuk menyempurnakan pementasan fisik (Campbell, 2006: 75). Orang yang memiliki inteligensi kinestik-badani dengan mudah dapat mengungkapkan diri dengan gerak tubuh mereka. Mereka juga mudah memainkan mimik, drama, dan peran. Mereka juga dengan mudah dan cepat melakukan gerak tubuh dalam olahraga dengan segala macam variasinya.
Secara sederhana, mereka dapat menyalurkan apa yang mereka hidupi dengan gerak tubuh. Orang yang kuat dalam inteligensi ini sangat baik dalam menjalankan operasi bila seorang dokter bedah. Tokoh yang kuat dalam inteligensi kinestik-badani, yaitu Martha Graham (penari balet), Charlie Chaplin (pemain pantomim yang ulung), Dustin Hoffman (aktor film), dan Martina Navratilova (pemain tenis) (Suparno, 2004: 35).
Menurut Gardner, barangsiapa yang memiliki kemampuan untuk menggunakan keseluruhan tubuh mereka atau paling tidak sebagian dari tubuh mereka untuk memecahkan masalah adalah merupakan pengembangan dari inteligensi kinestik (Campbell, 2006: 76). Berikut ini akan mengidentifikasi karakteristik potensial dari individu-individu dengan kecerdasan kinestik.
·         Menjelajahi lingkungan dan sasaran melalui sentuhan dan gerakan. Mempersiapkan untuk menyentuh, menangani atau memainkan apa yang akan menjadi bahan untuk dipelajari.
·         Mengembangkan kerjasama dan rasa terhadap waktu.
·         Belajar lebih baik, dengan langsung terlibat dan berpartisipasi.
·         Menikmati secara konkrit dalam mempelajari pengalaman-pengalamn.
·         Menunjukkan keterampilan, dalam arti menggerakkan kelompok besar ataupun kecil.
·         Menjadi sensitif dan responsif terhadap lingkungan dan sistem secara fisik.
·         Mendemonstrasikan keahlian dalam berakting, atletik, menari, menjahit, mengukir ukiran, atau memainkan alat musik.
·         Mempunyai kemampuan untuk memperbaiki segala sesuatu, dan sempurna secara pementasan fisik melalui perpaduan antara pikiran dan tubuh.
·         Mengerti dan hidup dalam standar kesehatan fisik.
·         Dapat mengekspresikan ketertarikan dalam berkarir.
·         Menemukan pendekatan baru dalam kemampuan fisik atau menciptakan bentuk-bentuk baru dalam menari, berolah raga atau kegiatan fisik lainnya.





BAB III
PENUTUP

1.      Pandangan masyarakat mengenai inteligensi adalah mereka percaya bahwa seseorang yang memiliki IQ tinggi, maka ia akan sukses dalam hidupnya. Oleh karena itu, pengukuran IQ sejak lama menjadi penting dalam menentukan kemungkinan seseorang akan sukses. Dalam kenyataannya sekarang ini kesuksesan seseorang tidak dapat ditentukan oleh IQ yang tinggi. Orang dengan IQ tinggi tetapi karena emosinya tidak stabil akan mengalami kegagalan. Hal ini dikarenakan emosinya tidak dapat berkembang dengan baik. Sebaliknya, apabila orang dengan IQ rendah tetapi karena ketekunan dan emosinya yang seimbang akan sukses dalam belajar maupun bekerja. Apabila kita melihat kenyataan yang ada dalam kehidupan masyarakat sekarang ini, orang tua dan banyak orang termasuk guru lebih menekankan pentingnya IPA dan sains. Secara umum mereka mengganggap bahwa inteligensi matematis-logis yang dominan dalam IPA ataupun sains lebih tinggi daripada intelegensi lainnya. Hal ini terbukti bahwa para orang tua berlomba-lomba mendorong anaknya masuk dalam jurusan IPA pada penjurusan di SMA, tanpa melihat minat dan bakat pada diri anaknya.
2.      Gardner memandang inteligensi sebagai sebuah kemampuan untuk memecahkan persoalan dan menghasilkan produk dalam suatu seting yang bermacam-macam dan dalam situasi yang nyata (Suparno, 2004: 17). Dalam pengertian tersebut dijelaskan bahwa bukan hanya kemampuan seseorang untuk menjawab suatu tes IQ di sebuah ruangan tertutup yang lepas dari lingkungannya. Inteligensi memuat kemampuan untuk memecahkan persoalan yang nyata dalam situasi yang bermacam-macam. Bagi Gardner, kemampuan disebut inteligensi bila menunjukkan suatu kemahiran dan keterampilan seseorang untuk memecahkan persoalan dan kesulitan yang ditemukan dalam hidupnya.
3.      Teori inteligensi ganda yang dikemukakan oleh Gardner mencakup sembilan inteligensi. Kesembilan inteligensi ini dapat ditingkatkan dan dikembangkan secara memadai sehingga dapat berfungsi dengan baik. Kesembilan inteligensi tersebut adalah yang pertama, inteligensi verbal-linguistik. Inteligensi verbal-linguistik memuat mengenai kemampuan dalam menggunakan dan mengolah kata-kata secara efektif baik secara oral maupun tertulis. Orang yang kuat dalam inteligensi ini akan mempu berbahasa secara lancar, baik, dan lengkap. Mereka akan mudah mengembangkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa. Kedua, inteligensi matematis-logis yaitu kemampuan yang lebih berkaitan dengan penggunaan bilangan dan logika secara efektif. Inteligensi matematis-logis memuat kepekaan pada pola logika, abstraksi, kategorisasi, dan perhitungan. Ketiga, adalah inteligensi ruang-visual yaitu kemampuan untuk menangkap dunia ruang-visual secara tepat, termasuk di dalamnya adalah kemampuan untuk mengenal bentuk dan benda secara tepat, melakukan perubahan itu, menggambarkan suatu hal atau benda dalam pikiran dan mengubahnya dalam bentuk nyata, serta menggungkapkan data dalam bentuk grafik (Suparno, 2004: 31), yang keempat adalah inteligensi kinestik-badani yaitu kemampuan menggunakan tubuh atau gerak tubuh untuk mengekspresikan gagasan dan perasaan (Suparno, 2004: 34). Selain keempat inteligensi tersebut ada pula inteligensi musikal, inteligensi interpersonal, inteligensi intrapersonal, inteligensi lingkungan, dan inteligensi eksistensial. Inteligensi ini dapat berkembang dalam proses pembelajaran dan pengalaman-pengalaman tersendiri. Di sinilah pendidikan mempunyai fungsi, yakni membantu agar setiap inteligensi pada diri seseorang berkembang secara optimal.

















DAFTAR REFERENSI

Campbell, L., Campbell, B. & Dickinson, D. (2006). Metode praktis pembelajaran berbasis multiple intelligences. Depok: Intuisi.
Suparno, P. (2004). Teori inteligensi ganda dan aplikasinya di sekolah. Yogyakarta: Kanisius.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar