Selasa, 24 Mei 2016

KONTROL DIRI SEBAGAI SUATU KECERDASAN MORAL YANG HARUS DIBANGUN



MAKALAH LANDASAN PENDIDIKAN

KONTROL DIRI SEBAGAI SUATU KECERDASAN MORAL YANG HARUS DIBANGUN
Dosen Pengampu : Gregorius Ari. N., SJ., M.A.


Disusun oleh :
Kelompok 7 (Kelas 2-E)
1.      Gabriella Muna Yulinar          (141134218)
2.      Vicensia Nataliardila               (141134219)
3.      Maria Krusita                          (141134220)



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
JURUSAN ILMU PENDIDIKAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
2015


         Puji syukur senantiasa kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini dengan baik dan lancar.
         Penulisan makalah ini dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah landasan pendidikan. Adapun makalah ini membahas mengenai kontrol diri sebagai suatu kecerdasan moral yang perlu untuk dikembangkan dan dibangun. Makalah ini telah kami usahakan semaksimal mungkin dan tentunya dengan bantuan dari berbagai sumber. Untuk itu kami tidak lupa menyampaikan terima kasih kepada semua sumber yang telah memberikan informasi sehingga sangat membantu kami dalam menyelesaikan makalah ini.
          Tidak lepas dari itu semua, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih banyak kekurangan dalam makalah ini baik dari segi penyusunan bahasa maupun dari segi lainnya. Oleh karena itu kritik dan saran sangat diharapkan dari para pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
          Semoga apa yang telah kami sampaikan dalam makalah ini berguna untuk menambah wawasan pengetahuan khususnya bagi kami sendiri, umumnya bagi pembaca.


Yogyakarta, 11 Mei  2015


Penulis


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Krisis yang nyata dan mengkhawatirkan dalam masyarakat kita sekarang ini banyak  sekali melibatkan anak-anak. Hal ini terlihat dari berita-berita sehari-hari berisi tragedi yang mengejutkan dan data statistik mengenai perkembangan anak-anak membuat kita tercengang, khawatir, dan berusaha untuk mencari jawaban atas persoalan tersebut. Dalam buku Building Moral Intelligence yang ditulis oleh Michele Borba terdapat data laporan Akademi Ilmu Kesehatan Anak Amerika yang menunjukkan bahwa negara Amerika Serikat mencapai angka bunuh diri dan pembunuhan yang dilakukan remaja tertinggi di antara 26 negara-negara makmur di dunia.
Gambaran tersebut memperlihatkan bahwa moral pada anak sudah sangat buruk sehingga upaya untuk mengatasi krisis moral pada anak-anak sangat dibutuhkan dari berbagai pihak, terutama orang tua dan pendidikan. Di dalam keluarga peran orang tua sangat penting untuk mendidik moral anak-anaknya, karena keluarga adalah tempat pertama untuk anak mendapatkan pendidikannya. Begitu pula dengan pendidikan yang memiliki peran yang tidak kalah penting untuk mendidik para siswanya supaya memiliki moral yang baik.
            Berbagai macam strategi dalam berbagai bidang diupayakan salah satunya dalam bidang pendidikan yang menuntut guru untuk mengajarkan rasa percaya diri dan kemampuan mengatasi konflik serta para penasihat yang mengajarkan keterampilan sosial dan cara mengendalikan kemarahan, juga para psikolog dengan berbagai teori-teori baru yang lebih lengkap, seperti Howard Gardner merombak pemahaman kita tentang kemampuan kognitif anak dengan teori kecerdasan majemuk dan Daniel Goleman yang memperkenalkan kecerdasan emosi.
            Dari masalah tersebut menyadarkan kita bahwa membangun kecerdasan moral salah satunya adalah kontrol diri dalam diri anak itu penting, karena hal tersebut yang diharapkan untuk menyelamatkan moralitas mereka. Dengan demikian anak akan memiliki kemampuan untuk memahami hal yang benar dan yang salah serta menuntun mereka untuk selalu bertindak benar.


B.       Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan kontrol diri?
2.      Apa yang menyebabkan timbulnya krisis kontrol diri yang buruk?
3.      Bagaimanakah cara untuk membangun sebuah kontrol diri dalam diri anak?

C.      Tujuan Makalah
1.      Mengetahui penjelasan mengenai kontrol diri.
2.      Mengetahui penyebab timbulnya krisis kontrol diri yang buruk.
3.      Mengetahui cara untuk membangun kontrol diri dalam diri anak.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Penjelasan mengenai Kontrol Diri
Jika Anda bertanya kepada anak-anak apakah berbohong, mencuri, menyontek, atau membunuh orang itu tindakan yang kurang benar, sebagian besar akan menjawab bahwa itu perbuatan yang salah. Namun, pemahaman itu tidak cukup; mereka hanya dapat membedakan antara yang benar dan yang salah. Itulah sebabnya mengapa hanya sedikit anak mau berkomitmen terhadap tindakan yang mereka katakan tidak benar itu. Untuk dapat menahan dorongan impulsif perlu unsur ketiga kecerdasan moral—kontrol diri—dan tampaknya ini merupakan hal yang kurang kita ajarkan kepada anak-anak belakangan ini (Borba, 2008: 104).
Dalam buku tulisan Daniel Goleman, Emotional Intelligence, diuraikan hasil survei nasional yang dilakukan secara acak pada pertengahan tahun 1970 (Borba, 2008: 104). Pada survei itu anak-anak Amerika usia tujuh hingga empat belas tahun diberi penilaian oleh orangtua dan guru mereka (Borba, 2008: 104). Kemudian survei yang sama diulangi kembali pada akhir tahun 1980. Riset menunjukkan adanya gejala yang mengkhawatirkan: rata-rata anak mengalami penurunan dalam 42 indikator dasar kesehatan emosi dan tak satu pun yang meningkat (Borba, 2008: 104). Penelitian ini mirip dengan data yang dinyatakan dokter anak bahwa masalah kesulitan belajar dan sifat hiperaktif mengalami peningkatan dari 1,4 persen menjadi 9,2 persen dalam dua dekade (Borba, 2008: 104). Anak-anak zaman sekarang dibandingkan dengan generasi sebelumnya lebih impulsif dan tidak patuh, lebih mudah tersinggung dan kasar, serta lebih pencemasan dan penakut. Kontrol diri mereka yang lemah jelas menghambat pertumbuhan moral mereka.
Empati membantu anak memahami perasaan orang lain, hati nurani membantu mereka membedakan antara benar dan salah, dan kontrol diri membuat anak mampu menahan diri dari dorongan hawa nafsu sehingga ia dapat melakukan sesuatu yang benar berdasarkan hati dan pikirannya (Borba, 2008: 104). Jika anak mempunyai kontrol diri, ia tahu dirinya punya pilihan dan dapat mengontrol tindakannya. Ini merupakan kebajikan yang menjadikan anak baik dan murah hati. Mereka mengesampingkan hal-hal yang sifatnya memuaskan diri sendiri serta mengarahkan hati nurani melakukan sesuatu untuk orang lain. Kontrol diri juga membekali anak dengan karakter yang kuat karena menahan mereka memanjakan diri dengan bersenang-senang dan justru memusatkan pada tanggung jawab (Borba, 2008: 104). Kontrol diri juga menyadarkan anak akan adanya konsekuensi berbahaya atas tindakan yang dilakukannya, sehingga dengan kesadaran tersebut anak dapat mengontrol emosinya. Para ahli mengatakan, walaupun temperamen bawaan dan susuanan biologis berpengaruh bagi kemampuan anak mengontrol diri, studi menunjukkan bahwa anak dapat diajarkan cara pengendalian perilaku mereka (Borba, 2008: 104).

B.     Penyebab Krisis Kontrol Diri yang Buruk
Kontrol diri membantu anak mengendalikan perilaku mereka, sehingga mereka dapat bertindak benar berdasarkan pikiran dan hati nurani mereka (Borba, 2008: 96-97). Kontrol diri memberi anak kemampuan mengatakan “tidak”, melakukan hal yang benar, dan memilih melakukan tindakan bermoral. Hal ini merupakan mekanisme internal yang sangat berpengaruh, yang mengarahkan sikap moral anak, sehingga pilihan yang mereka ambil tidak hanya aman tetapi bijak (Borba, 2008: 97). Kontrol diri merupakan kekuatan moral yang secara sementara menghentikan tindakan yang berbahaya. Karena itu, memberi waktu khusus kepada anak untuk membayangkan konsekuensi yang munkin timbul akibat perbuatannya akan menumbuhkan kontrol diri, sehingga anak dapat mengerem perilakunya dan tidak akan melakukan tindakan yang berbahaya. Jelas, kontrol diri dapat membantu anak melakukan tindakan bermoral—dan ini khususnya sangat penting bagi anak yang tumbuh di lingkungan yang penuh kekerasan dan di dunia yang semakin tidak menentu ini (Borba, 2008: 97).
Jika tiga kebajikan utama kecerdasan moral—yaitu empati, hati nurani, dan kontrol diri—tidak ada dalam diri anak, hal ini kan menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja (Borba, 2008: 97). Tidak mampu memahami perasaan orang lain, tidak mempunyai suara hati yang mengarahkan mereka bertindak benar, dan tidak mampu mengontrol hawa nafsu membuat anak tidak berdaya menangkis pengaruh-pengaruh buruk yang mengadang mereka. Dari ketiga kebajikan tersebut, para ahli melihat, kontrol dirilah yang paling kurang berkembang (Borba, 2008: 97). Meski ada banyak alasan megapa kontrol diri tidak berkembang dengan baik pada anak-anak muda, empat hal yang diuraikan berikut ini tergolong yang paling memengaruhi dan menjadi sebab terjadinya krisis perkembangan kontrol diri (Borba, 2008: 97).


1.      Kesibukan Orang Tua yang Menimbulkan Stres
Cara terbaik bagi anak belajar kontrol diri adalah mengamati sikap orang lain, orang tua yang sering kali dalam keadaan stres akan menularkan hal tersebut kepada anak-anak (Borba, 2008: 98). Anak dari keluarga dengan kedua orang tua yang bekerja, orang tua tunggal yang bekerja, orang tua yang tidak bekerja, dan keluarga yang masih memegang tradisi, untuk menilai pola asuh yang diterapkan hasilnya menunjukkan, baik bekerja di luar maupun tidak, anak-anak menilai bahwa ibu-lah yang paling tidak dapat mengendalikan amarah jika mereka membuat ibunya kesal (Borba, 2008: 98). Beberapa contoh perilaku implusif yang dilihat anak: meluapkan amarah, mengonsumsi alkohol, dan obat-obatan, berjudi, merokok, makan berlebihan, menonton televisi terlalu sering, berbelanja secara berlebihan, dan mengutuk atau menyumpah.
Jika kita memperhitungkan waktu yang digunakan untuk bekerja, tidur, dan perjalanan bolak-balik antara rumah dan tempat kerja, orang tua hanya menyisakan waktu dua hingga tiga jam perhari untuk anak-anak. Artinya, anak banyak berhubungan dengan pengasuh lain. Padahal untuk mendorong kontrol diri secara efektif perlu sikap konsisten; pengasuh yang berbeda-beda dengan aturan yang berbeda-beda akan berpengaruh buruk bagi perilaku anak. Terlebih lagi, waktu yang dipergunakan orang tua masa kini bersama-sama anak mereka 40 persen di bawah waktu yang dilewatkan orang tua mereka dahulu, dan dalam sepekan berkurang sebelas jam dibandingkan dengan generasi tahun 1960-an (Borba, 2008: 98-99). Ini juga berarti bahwa orang tua kurang meluangkan waktu membicarakan pentingnya kontrol diri dan mengajari anak berfikir sebelum bertindak. Dengan demikian, budaya kita yang semakin tergesa-gesa dan menimbulkan stres menjadi faktor yang mempengaruhi lemahnya kontrol diri (Borba, 2008: 99).

2.      Kekerasan yang Menimbulkan Trauma
Tiga tahun pertama merupakan masa-masa krisis perkembangan kontrol diri karena pada saat itulah korteks otak berkembang; di korteks-lah tempat terjadinya proses berpikir yang lebih tinggi, yang mengontrol moralitas dan dorongan-dorongan yang ada (Borba, 2008: 99). Banyak efek buruk yang terjadi pada otak anak-anak akibat dari kekerasan, kelalaian, atau kebengisan yang berulang-ulang dimasa kanak-kanak. Salah satu akibat tragis yang muncul adalah rendahnya kemampuan mengontrol dorongan yang timbul; anak-anak tersebut beresiko tinggi melakukan tindakan agresif dan mengalami berbagai masalah sepanjang hidup (Borba, 2008: 99).
Cedera otak pada usia dini bisa mengubah susunan kimia otak, membuat anak rawan terhadap perilaku kasar dan kurang dapat mengendalikan kemarahan (Borna, 2008: 99). Tindak kekerasan dipengaruhi oleh faktor genetika dan lingkungan. Anak-anak yang berada dalam keluarga yang penuh dengan kekerasan kemungkinananya lima kali lebih besar menjadi anak nakal (Borba, 2008: 99-100). Tiga juta anak setiap tahun dilaporkan menjadi korban kekerasan dan kelalaian orang tua, dan satu dari korban yang mengalami tindak kekerasan fisik adalah bayi di bawah umur dua belas bulan (Borba, 2008: 100). Data ini menunjukkan kemungkinan meningkatnya penurunan kontrol diri jika kondisi tersebut diabaikan.

3.      Ketergantungan yang Berlebihan pada Obat daripada Mengendalikan Diri  
                Apoteker mungkin termasuk orang yang paling menyadari terjadinya krisis kontrol diri karena melihat banyaknya resep yang mencantumkan Ritalin, yaitu stimulun yang telah disetujui pemakaiannya untuk mengontrol perilaku impulsif, hiperaktif, dan kurang konsentrasi. Para ahli berpendapat bahwa kasus pemakaian Ritalin kepada anak yang mengalami kesulitan mengontrol impuls dan pola berpikirnya karena pengaruh buruk sosial dan pola asuh yang buruk, dan bukan karena benar-benar persolan akibat gangguan saraf atau biologis (Borba, 2008: 100). Bahayanya, mereka bisa mengalami ketergantungan terhadap zat-zat kimia untuk mengontrol perilaku mereka, padahal semestinya diajarkan cara menahan dorongan yang mereka hadapi, yang membuat khawatir, semakin lama hal ini semakin menyerang anak-anak yang lebih kecil
4.      Pengagungan Kekerasan dalam Dunia Hiburan
            Riset telah membuktikan bahwa anak-anak belajar kontrol diri bukan hanya secara langsung dari orang tua, guru, dan teman tetapi juga dari tokoh-tokoh dalam buku, film, dan televisi (Borba, 2008: 101). Akademi Ilmu Kesehatan Anak Amerika menyebut media di sana sebagai “yang paling keras di dunia” (Borba, 2008: 101). Anak usia prasekolah, yang rata-rata menonton film kartun selama dua jam di televisi setiap hari, melihat tindak kekerasan sebanyak 10.000 kali dalam setahun (Borba, 2008: 101). Rata-rata anak menyaksikan 8.000 kasus pembunuhan pada saat lulus sekolah dasar dan 200 tindakan kekerasan di usia delapan belas tahun (Borba, 2008: 101).
            Studi yang dilakukan selama tiga tahun oleh empat universitas menganalisis acara televisi selama 10.000 jam (tidak termasuk siaran berita dan olahraga) menemukan bahwa lebih dari sepertiga adegan kekerasan menampilkan tokoh “jahat” yang bebas dari hukuman; 70 persen karakter tersebut tidak menunjukkan penyesalan saat melakukan kejahatan; 50 persen dari tindak kekerasan menunjukkan bahwa korban tidak menunjukkan kesakitan; 40 persen dari seluruh kekerasan dipadukan dengan humor; 40 persen kekerasan diperankan oleh tokoh yang menarik dan bersikap seperti pahlawan; dan kurang dari 5 persen acara yang menggambarkan tindak kekerasan tersebut menyampaikan pesan anti kekerasan (Borba, 2008: 101).
            Televisi bukan satu-satunya faktor yang mendorong tindak kekerasan. Pengaruh yang ditimbulkan jelas ada-terutama bagi mereka yang rentan karena pengaruh stres lingkungan dan biologis (Borba, 2008: 101). Hasil lebih dari seribu penelitian yang dilakukan, termasuk laporan dari biro Kesehatan Publik dari Institut Kesehatan Mental Nasional menyimpulkan bahwa menonton tindak kekerasan di televisi mengakibatkan perilaku agresif pada sebagian anak (Borba, 2008: 102). Asosiasi Psikologi Amerika memperkirakan bahwa kekerasan di televisi berpengaruh hingga 15 persen terhadap perilaku agresif anak (Borba, 2008: 102). Pusat Pendidikan Media di Washington D.C. menemukan, anak-anak yang menonton televisi selama empat jam atau lebih dalam sehari cenderung lebih banyak menggunakan agresi fisik dalam menyelsesaikan konflik yang dihadapinya dan lebih banyak menunjukkan perilaku impulsif.
            Video game merupakan hiburan keluarga yang paling populer setelah televisi, dan hampir sepertiga dari video game paling tahun 1999 mengandung kekerasan dan ini merupakan jenis yang paling digemari (Borba, 2008: 102). Survei terhadap 800 anak kelas empat SD hingga kelas dua SMP menunjukkan, setengah dari mereka menyatakan bahwa game yang mereka sukai sebagian besar mengandung unsur kekerasan (Borba, 2008: 102). Studi terbaru yang membadingkan video game yang mengandung kekerasan dan yang tidak mengandung kekerasan yang dipublikasikan oleh The Journal of Personality and Social Psychology, menegaskan bahwa video game juga menyebabkan perilaku agresif pada anak dan menimbulkan sikap mudah tersinggung pada pemainnya dan hal inilah yang menentukan perilaku agresif (Borba, 2008: 102).
            Video game yang populer dikalangan anak-anak menerapkan teknik latihan ala militer yang menciptakan karakter prajurit berdarah dingin. Ini berarti, banyak anak-anak yang menghabiskan waktu menyaksikan kekerasan tanpa perasaan dan kemungkinan besar mereka akan menganggap tindak kekerasan itu bisa diterima. Tentu saja tidak setiap anak yang bermain video game akan menjadi pembunuh, tetapi video game yang mengandung kekerasan melatih anak-anak untuk menjadi seorang pembunuh dan bahkan mengajarkan mereka untuk menikmati hal tersebut. Akademi Ilmu Kesehatan Anak Amerika juga menunjukkan bahwa “anak-anak yang sejak usia dini menyaksikan progam yang mengandung kekerasan cenderung berperilaku keras dan agresif dibandingkan anak-anak lain yang tidak mengalami hal yang sama.” (Borba, 2008: 103).
Keempat faktor tersebut adalah penyebab dari krisis kontrol diri. Tentu saja bukan hanya satu faktor yang mempengaruhi anak untuk berperilaku agresif, melainkan akumulasi dari berbagai pengaruh buruk yang melemahkan pertahanan mereka dan dapat memunculkan sikap impulsif dan destruktif. Akan tetapi, karena pengaruh-pengaruh tersebut cukup besar dan hal ini mendorong kita untuk menumbuhkan kontrol diri dengan sungguh-sungguh. Dengan demikian kita tidak hanya mengajari anak mengetahui dan merasakan hal yang baik dan benar, tetapi juga mengajari anak untuk bertindak benar.

C.    Cara untuk Membangun Kontrol Diri dalam Diri Anak
Ada tiga langkah penting dalam membangun kontrol diri pada anak-anak (Borba, 2008: 107). Langkah pertama adalah memperbaiki perilaku Anda sehingga dapat memberi contoh kontrol diri yang baik bagi anak dan menunjukkan bahwa bahwa hal tersebut adalah prioritas. Langkah kedua adalah membantu anak menumbuhkan sistem regulasi internal sehingga dapat menjadi motivator bagi diri mereka sendiri. Langkah ketiga mengajarkan cara membantu anak menggunakan kontrol diri ketika menghadapi godaan dan stres, mengajarkan berpikir sebelum bertindak sehingga mereka akan memilih sesuatu yang aman dan baik.
Langkah 1: Beri Contoh Kontrol Diri dan Jadikan hal tersebut sebagai Prioritas.
            Langkah pertama ini menunjukkan bagaiman cara Anda memulai menumbuhkan kontrol diri dalam diri anak sehingga Anda juga dapat menunjukkan pentingnya hal tersebut (Borba, 2008: 109). Karena memberi contoh merupakan cara terbaik mengajari anak, bagian ini juga menguraikan beberapa perilaku orang tua yang efektif dalam memberi contoh tentang kontrol diri. Semakin cepat kita tumbuhkan kontrol diri pada anak, semakin mudah menjadikan hal tersebut sebagai kebiasaan moral yang mengarah tindakan mereka. Cara terbaik mengajarkan moralitas pada anak adalah dengan melihat contoh yang diberikan orang tua (Borba, 2008: 110). Contoh yang kita berikan merupakan hal terbaik untuk membuat anak menyerap nilai-nilai moral kontrol diri. Perilaku Anda merupakan buku pelajaran bagi anak, jadi tanyakan pada diri Anda, pelajaran apa yang didapat anak dari diri Anda.
Ø  Empat Kebiasaan Keluarga yang dapat Menumbuhkan Kontrol Diri
            Kita tak dapat mengubah anak yang impulsif menjadi pasif, tetapi kita dapat mengajarkan keagresifannya sehingga anak dapat bereaksi lebih tenang. Sebagian besar kemampuan mengontrol diri itu dapat dipelajari bukan diturunkan, dan tempat terbaik melatih kemampuan itu adalah keluarga (Borba, 2008: 111). Berikut ada empat kebiasaan yang dapat Anda terapkan untuk membangkitkan kontrol diri pada anak (Borba, 2008: 111).
1.      Ajarkan Makna dan Nilai Kontrol Diri. Jika Anda menginginkan anak-anak mengembangkan kontrol diri, jelaskan makna kebajikan tersebut. Kontrol diri adalah kemampuan tubuh dan pikiran untuk melakukan apa yang semestinya dilakukan (Borba, 2008: 112). Inilah yang membuat kita mampu membuat pilihan yang tepat ketika menghadapi godaan, walaupun pada saat itu muncul pikiran dan ide buruk dalam kepala kita. Kontrol diri membuat kita memikirkan apa yang akan terjadi jika kita mengambil pilihan yang berbahaya. Kontrol diri menjauhkan kita dari persoalan dan membantu kita bertindak tepat (Borba, 2008: 112). Tekankan bahwa sering kali kita ingin melakukan sesuatu yang tidak semestinya, jadi kontrol diri itu tidak selalu mudah. Kadang diperlukan kekuatan dan keberanian. Anda bisa tanyakan kepada anak hal apa yang sulitditahannya. Selanjutnya sering seringlah menyebutkan kata-kata kontrol diri agar anak mengerti betapa pentingnya hal tersebut dan ketika anak Anda berhasil menahan godaan, tunjukkanlah bahwa itu yang dimaksud kontrol diri dan dorong agar ia terus melakukannya.

2.      Tekadkan mengajarkan kontrol diri pada anak. Orang tua yang sangat ingin anak-anaknya menunjukkan kontrol diri biasanya lebih berhasil karena mereka memiliki tekad yang kuat untuk menerapkannya (Borba, 2008: 112). Jika Anda ingin anak mempunyai kontrol diri yang kuat, tetapkan niat Anda untuk memupuk sifat tersebut dalam diri mereka. Kemudian Anda harus berpegang teguh pada tekad Anda sampai anak Anda menunjukkan adanya kemajuan.

3.      Buatlah moto kontrol diri dalam keluarga. Buatlah moto keluarga Anda sendiri untuk mengingatkan anak-anak bahwa kontrol diri merupakan sikap yang sangat penting (Borba, 2008: 114).

4.      Buat aturan bahwa hanya boleh bicara dalam keadaan terkontrol. Kalau seseorang merasa akan kehilangan kendali, ia akan minta waktu sebentar: ini berarti ia hendak  menenangkan diri dulu, kemudian ia pergi dan akan kembali setelah merasa lebih tenang (Borba, 2008: 114). Jelaskan konsep ini padakeluarga Anda kemudian diskusikan cara mengendalikan emosi selama mengendalikan diri. Tekankan juga, setelah aturan diterapkan, semua harus menghormatinya. Aturan ini khususnya berguna bagi anak-anak yang mengalami kesulitan kontrol diri atau jika anak remaja Anda sangat emosional. 

Langkah 2 : Doronglah agar Anak Memotivasi Diri
Salah satu tugas terberat adalah mendidik anak agar percaya diri (Borba, 2008: 118). Meskipun kita mesti mendorong anak agar berhasil, pada akhirnya mereka sendirilah yang harus mempunyai keinginan untuk itu. Inilah bagian dari kontrol diri. Tujuan kita adalah membuat anak sadar bahwa ia dapat mengontrol hidup dan pilihannya.
Tentu saja kontrol diri tumbuh secara perlahan seiring dengan waktu, tetapi kita dapat membantu anak-anak yang masih kecil dengan mendorong mereka agar tidak mengharapkan hadiah atau pujian orang lain atas sikap baiknya. Ini sudah merupakan langkah besar (Borba, 2008: 118-119). Sepertinya sekarang ini anak-anak dididik untuk mengharapkan hadiah sejak kecil. Bahayanya, mereka akan mengharapkan pujian, gambar, stiker, atau uang atas keberhasilan yang dicapai. Mereka bukannya mengembangkan kontrol internal melainkan mengembangkan sistem kontrol eksternal yang mengharapkan orang lain melihat (atau mengomentari) perbuatan mereka.
Anak-anak memiliki kecerdasan moral memilih berperilaku baik karena tahu bahwa memang itu yang semestinya dilakukan dan karena berperilaku baik sudah cukup sebagai penghargaan itu sendiri (Borba, 2008: 119). Semakin mampu mengandalkan diri, semakin terbentuk kekuatan dan kontrol diri mereka. Langkah kedua ini memberikan strategi yang dapat membantu anak mengembangkan sistem pengaturan internal dalam membangun kontrol diri mereka—kebajikan utama yang ketiga dari kecerdasan moral (Borba, 2008: 119).
Ø  Lima Cara Mendorong Anak Melakukan Tugas dengan Baik
Dalam proses perkembangan moral, hal terburuk yang bisa terjadi adalah jika anak mau mengerjakan sesuatu hanya kalau ada imbalan yang didapatnya (Borba, 2008: 119). Strategi di bawah cukup sederhana untuk membuat anak bertanggung jawab dalam mengatur perilaku mereka sendiri (Borba, 2008: 119).
1.      Ubahlah kata ganti dari “aku” mennjadi “kamu”. Cara termudah untuk menjauhkan anak dari kontrol eksternal adalah dengan mengubah kata ganti dalam pujian Anda: ubah “aku” menjadi “kamu” (Borba, 2008: 119). Dengan demikian penekanan pada si anak yang melakukan sikap baik. Ini juga membantu anak mengatur sikapnya sendiri

2.      Tumbuhkan pujian internal. Kita bisa saja mengungkapkan kepada anak dari pagi hingga malam betapa bangganya kita, tetapi pada akhirnya mereka harus mengandalkan dorongan dalam diri sendiri (Borba, 2008: 120). Saya melihat banyak anak begitu bergantung pada pujian kita sehingga mereka tidak bisa melihat sendiri perbuatan baik mereka. Cara paling sederhana membantu mereka adalah menunjukkan bahwa tindakan mereka memang sudah semestinya begitu, kemudian ingatan mereka agar menginternalkan hal tersebut (Borba, 2008: 120).

3.      Mintalah agar anak menghargai perbuatannya sendiri. Borba tengah mengamati seorang guru kelas empat di Atlanta menerapkan suatu teknik sederhana, tetapi sangat berhasil (Borba, 2008: 120). Salah satu muridnya sering mendapat hukuman karena melontarkan komentar buruk dan jahat terhadap kawannya. Si guru telah mencoba berbagai pendekatan dan menurutnya tidak satu pun berhasil. Lalu, suatu ketika para murid harus mengerjakan tugas ilmiah secara berkelompok, anak itu tidak hanya mau bekerja sama, tetapi juga mau mambantu teman-teman satu kelompoknya. Guru tadi memanggilnya dan menyodorkan selembar kertas beserta amplop dan berkata, “Kau hebat seklai hari ini, Eli. Kau bisa bekerja sama dan membantu teman-teman sekelompok. Tulislah surat untuk ayah-ibumu sekarang, ceritakan tentang sikapmu itu dan betapa hebatnya kamu, nanti ibu akan tanda tangani suratnya. Setelah itu, kita kirim surat tersebut lewat pos.” Seketika wajah anak itu berbinar. Guru itu memujinya dan secara spesifik mengatakan perbuatan yang pantas mendapat pujian itu, sekaligus membuat Eli melihat sikapnya tersebut sebagai pendorong bagi dirinya. Dengan demikian, guru tadi menumbuhkan kontrol diri anak itu.

4.      Buat jurnal keberhasilan. Seorang ibu asuh mengungkapkan cara agar anak terdorong oleh sikapnya sendiri. Menurutnya, anak selalu berusaha menyenangkan orang lain sehingga sering tidak menyadari usaha dan keberhasilannya sendiri. Jadi, ibu itu pun membuat jurnal untuk masing-masing anak. Setidaknya seminggu sekali ia meminta setiap anak menuliskan (atau menggambarkan) keberhasilannya. Ibu itu juga menjelaskan bahwa ia selalu mengatakan kepada anak-anaknya definisi sebenarnya dari keberhasilan adalah keuntungan. Keberhasilan adalah kemajuan apa pu—besar maupun kecil—yang dicapai anak (Borba, 2008: 121). Rutinitas sederhana ini membantu anak secara perlahan menyadari bahwa mereka dapat mengontrol hidup mereka sendiri.

5.      Buatlah sertifikat. Seorang guru kelas tiga SD di Aurora, Colorado, membuat sebuah pusat penghargaan di kelasnya (Borba, 2008: 121). Guru tersebut mengatakan, ia membuat pusat penghargaan itu karena anak terbiasa mendapat penghargaan dari guru-guru lain sehingga mereka pun sering menanyakan kapan akan diberi penghargaan. Dengan membiarkan murid membuat sendiri serifikat tersebut, mereka pun tak lagi mengharapkan pujian dari guru dan justru mendorong diri sendiri untuk bertindak (Borba, 2008: 121). Banyak orang tua yang menerapkan hal tersebut dan menurut mereka anak-anak menyukainya.

Ø  Pujian yang Menumbuhkan Kepercayaan Diri
Pujian merupakan strategi terkuno yang digunakan orangtua mendorong anak bersikap baik (Borba, 2008: 122). Namun, benarkah hal tersebut meningkatkan moral anak? Hal inilah yang ingin diteliti psikolog Joan Grusec. Beliau beserta sekelompok peneliti melakukan pengamatan terhadap anak-anak dan menemukan bahwa mereka yang sering dipuji oleh ibunya ketika bersikap manis cenderung bersikap kurang manis dalam kesehariannya dibandingkan dengan anak-anak lain (Borba, 2008: 122-123).
Alfie Kohn, penulis buku Punished by Reward mengungkapkan: “Setiap komentar yang kita lontarkan—dan khususnya setiap pujian yang kita berikan—harus kita pertimbangkan apakah hal tersebut membantu individu merasa dapat mengendalikan hidupnya” (Borba, 2008: 123). Ada empat hal yang dapat membuat pujian menjadi efektif dalam meningkatkan moral dan mencegah anak melakukan sesuatu demi menyenangkan kita. Ini dapat dilakukan untuk membangkitkan motivasi dari dalam diri anak (Borba, 2008: 123).
1.      Puji tindakannya, bukan memuji si anak. Tujuan pujian yang efektif adalah mengajari anak baik dan buruk dan mengerti cara memperbaiki sikap (Borba, 2008: 123). Jadi, kita harus memfokuskan pujian pada perilaku anak, bukan pada anakitu sendiri.

2.      Beri pujian yang spesifik. Ketika Anda melihat anak bersikap sesuai harapan Anda, ungkapkan agar ia tahu hal tersebut (Borba, 2008: 123). Misalnya, jika Anda melihat anak mampu mengontrol diri, secara spesifik ungkapkan sikap baiknya itu: “Kamu tidak mendorong Kim. Berarti kamu bisa mengontrol diri.”

3.      Beri pujian yang sepantasnya. Anak-anak tahu kapan mereka mesti mendapat pujian, jadi berikanlah pujian sepantasnya: “Kamu mengerjakan PR dengan sabar, hasilanya rapi sekali.”

4.      Puji dengan tulus. Bersikaplah tulus dan jujur, dan tunjukkan perilaku baik yang dikerjakan anak (Borba, 2008: 124). Anak-anak tahu ketika pujian yang diberikan tidak tulus dan jujur.

Langkah 3 : Ajarkan Cara Mengontrol Dorongan agar Berpikir sebelum Bertindak
            Semua orang tua merasa khawatir melihat kekerasan yang banyak terjadi akhir-akhir ini. Banyak sekali data yang menunjukkan kasus-kasus mengenai tindakan remaja saat ini, salah satunya adalah penelitian besar yang dilakukan Carnegie Corporation yang menyatakan bahwa pada usia tujuh belas tahun, seperempat remaja Amerika terlibat “perbuatan yang membahayakan bagi dirinya dan orang lain.” (Borba, 2008: 125). Survei nasional pada tahun 19998 menunjukkan, hampir satu dari empat pelajar putra di SMP dan SMA menyatakan pernah memukul orang “karena marah” dalam waktu satu tahun terakhir, 24 persen pelajar putra SMA mengaku membawa senjata ke sekolah setidaknya sekali dalam satu tahun terakhir (Borba, 2008: 125).
            Dalam hal ini diperlukan sebuah strategi untuk membantu anak belajar mengontrol diri dalam keadaan stres atau situasi penuh godaan-agar berpikir sebelum bertindak. Dalam kondisi seperti sekarang ini, strategi-strategi ini merupakan hal terpenting yang mesti kita ajarkan kepada anak-anak.

Ø  Empat Strategi Mengendalikan Amarah agar Anak Dapat Menghadapi Situasi yang Membuat Stres
Pada tahun 1960, seorang psikolog bernama Walter Mischel dari Universitas Stanford melakukan apa yang sekarang dikenal sebagai Tes Marshmallow (Borba, 2008: 126). Mereka menguji anak-anak yang berusia empat tahun dengan marshmallow. Mereka menggolongkan anak-anak yang sabar menunggu diberi marshmallow dengan anak-anak yang tidak sabar menunggu dan melihatnya kembali saat mereka dewasa. Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang pada saat umur empat tahun sabar menunggu untuk mendapatkan marshmallow ternyata lebih baik dalam segi sosial: lebih efektif, lebih asertif, dan lebih mampu mengatasi hal-hal yang membuat frustasi (Borba, 2008: 127). Kelompok anak yang sabar menunggu menunjukkan hasil tes masuk perguruan tinggi yang cukup tinggi dibandingkan para remaja yang pada saat usia empat tahun tidak sabar menunggu. Hasil penelitian tersebut menunjukkan pentingnya anak mengembangkan kemampuan menahan diri dan belajar mengontrol diri (Borba, 2008: 127).
Tidak mudah mengajari anak mengatasi perasaanya-khususnya jika sebelumnya mereka selalu mengatasi masalah dengna cara agresif, namun sama halnya dengan kekerasan yang didapat dengan cara belajar, kontrol diri pun dapat dipelajari. Berikut empat cara agar anak dapat mengatasi perasaannya dan mengendalikan diri dalam situasi yang membuat stres.

1.      Belajar mengungkapkan dengan kata-kata. Kebanyakan anak bersikap agresif karena tidak tahu cara mengekspresikan perasaan frustasinya dengan cara lain (Borba, 2008: 127). Mereka hanya dapat menunjukkan perasaan dengan cara menendang, berteriak, menyumpah, memukul, atau melempar-lempar benda. Anak-anak perlu belajar mengungkapkan perasaan dengan kata-kata dan Anda dapat membantu mereka dengan membuat poster berisi “ungkapan perasaan” (Borba, 2008: 127). Hal ini dapat dilakukan dengan cara menuliskan kata-kata yang menunjukkan kepada orang lain bahwa kita benar-benar marah dan menggantungkannya, setelah itu kita dapat menggunakan kata-kata tersebut untuk menanyakan alasan kemarahan mereka, seperti: “Seperti kamu marah. Kamu mau bercerita kenapa kamu marah?”.

2.      Perhatikan tanda-tanda amarah. Jelaskan kepada anak bahwa kita dapat melihat tanda-tanda munculnya rasa marah dan kita harus memperhatikan hal tersebut untuk menghindari sebuha persoalan (Borba, 2008: 128). Kita dapat membantu anak dengan mengenali tanda-tanda tersebut, seperti nada suara semakin tinggi, wajah memerah, jantung berdegup, telapak tangan mengepal, napas terengah-engah, dan mulut terasa kering. Anda perlu menunjukkan saat pertama kali mereka mengalaminya. Dengan membantu anak melihat tanda-tanda tersebut saat kemarahan mulai muncul biasanya ketika pertama kali ada tekanan atau stres anak akan semakin dapat menenangkan diri dan belajar mengatur perilakunya. Kemarahan mudah meningkat dan jika anak tidak segera berusaha mengontrol diri, ia akan terlambat menguasai dirinya kembali (Borba, 2008: 128).

3.      Tenangkan diri dengan berbicara dalam hati. Para hali menyarankan agar kita membantu anak belajar mengontrol dir dengan mengajarkan mereka untuk menegaskan dengan kata-kata sederhana dan positif kepada diri mereka sendiri dalam situasi yang menimbulkan stres (Borba, 2008: 128). Kata-kata tersebut seperti “Tetap tenang,” “Tetap terkendali,” “Tarik napas dalam-dalam,” dan “Aku bisa mengatasinya.” Ajarkan kata-kata semacam itu kepada anak dan biarkan mereka memilih sendiri mana yang paling tepat untuk menenangkan hati mereka, bantu beberapa kali melatih mereka dalam menggunakan kata-kata tersebut. Semakin sering anak berlatih menggunakannya, semakin mudah menerapkanya dalam situasi sulit ketika mereka perlu tetap bersikap tenang dan mengontrol diri.

4.      Ajarkan cara teknik pernapasan. Belajar teknik pernapasan yang baik khususnya dalam situasi sulit merupakan salah satu cara paling efektif untuk dapat mengontrol diri (Borba, 2008: 128). Jadi, hal tersebut perlu diajarkan kepada anak-anak. John Decey dan Lisa Fiore, ahli perkembangan anak dan penulis Your Anxious Child, menyarankan agar kita mengajarka metode relaksasi dengan posisi anak duduk nyaman, punggung tegap bersandar pada kursi (Borba, 2008: 128-129). Kemudian dilanjutkan dengan menarik napas perlahan-lahan hingga lima hitungan dan tingkatkan hitungan tersebut sampai memberikan relaksasi yang maksimal.

Rumus Tiga Langkah Mengendalikan Dorongan Impulsif
Kata-kata yang disebutkan anak untuk disebutkan dalam hati ketika menghadapi godaan sangat menentukan apakah ia dapat menahan dorongan impulsif atau tidak (Borba, 2008: 131). Ketiga langkah ini mengajarkan anak agar tidak selalu impulsif dan dapat mengontrol diri, khususnya dalam keadaan stres; anak-anak belajar berhenti sejenak dan berpikir sebelum bertindak, sehingga ketika bertindak, mereka mengambil langkah yang tepat (Borba, 2008: 131-132). Masing-masing langkah itu untuk mengendalikan godaan. Untuk memudahkan mengingat ketiganya, kita bisa menyebut langkah “3 B”.
1.      Berhenti
Langkah pertama membantu anak menahan dorongannya merupakan tindakan yang terpenting: anak harus belajar berhenti dan diam sebelum bertindak (Borba, 2008: 132). Berhenti beberapa detik saja bisa sangat berpengaruh khususnya dalam keadaan yang menimbulkan stres atau situasi berbahaya. Bagi sebagian anak, berhenti sebelum bertindak tidaklah mudah dilakukan, khususnya bagi anak yang masih kecil atau bersifat impulsif (Borba, 2008: 132). Jadi, pada awalnya mungkin Anda perlu memegangi mereka dan mengatakan, “Berhenti dan diam sebentar”. Terus lakukan seperti itu sampai anak bisa menguasai diri. Cara lain yang juga dapat membantu adalah menghitung satu, dua, tiga dan seterusnya agar anak ingat bahwa ia harus berhenti sebelum bertindak, kemudian menarik napas perlahan. Selanjutnya anak mesti terus-menerus mempraktikkan hal tersebut sampai akhirnya menjadi kebiasaan. Ingat, Anda membantu anak mengembangkan kebiasaan baru, dan cara terbaik adalah memprantikkannya berulang-ulang.
2.      Berpikir
Langkah kedua dalam membuat anak mengendalikan dorongan adalah membuat ia berpikir dalam situasi sulit yang dihadapi dan konsekuansi yang mungkin timbul akibat tindakan yang salah (Borba, 2008: 133). Cara termudah melatih anak berpikir adalah mengajarkannya segera melihat sekitar, memperhatikan apa yang terjadi, dan bertanya pada diri sendiri. Ini merupakan langkah penting agar anak dapat mengendalikan dorongan dan dapat bertindak benar (Borba, 2008: 133). Salah satu cara membantu anak memperkirakan akibat yang mungkin timbul adalah mengajarinya bertanya dalam hati. Cara mudah mengajarkan hal itu pada anak yang masih kecil adalah menyuruhnya berpura-pura menjadi peramal. Ingatkanlah, jika ia akan merasa menyesal melakukan tindakan tersebut, ia tidak semestinya melakukan itu.
3.      Bertindak
Langkah ketiga ini membantu anak memahami bahwa dia sendirilah yang bertanggung jawab atas perbuatannya, dan ini merupakan bagian terpenting bagi perkembangan moral (Borba, 2008: 134). Intinya, semua anak memang kadang-kadang cenderung mengambil keputusan yang tepat; ini bagian dari hidup. Jika anak Anda mengambil pilihan yang tidak baik, jadikan hal tersebut sebagai kesempatan untuk mendidiknya agar kelak ia bisa mengambil pilihan yang terbaik. Tujuannya untuk membimbingnya sehingga ia bisa melihat kelak kesalahannya dan kemudian membantunya memikirkan tindakan apa yang semestinya ia lakukan.



BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
1.      Kontrol diri merupakan bagian dari kebajikan utama kecerdasan moral yang membantu kita menahan dorongan dari dalam diri kita dan mendorong kita untuk berpikir sebelum bertindak, sehingga kita dapat melakukan hal yang benar, dan kecil kemungkinan mengambil tindakan yang akan menimbulkan akibat buruk. Kontrol diri membantu kita menjadi mandiri karena kita akan tahu bahwa kita dapat mengendalikan tindakan kita sendiri. Kontrol diri juga menyingkirkan keinginan yang sifatnya untuk pemuasan pribadi melainkan mementingkan keperluan orang lain.
2.      Penyebab dari timbulnya krisis kontrol diri yang buruk yaitu karena kesibukan orang tua yang menimbulkan stres. Anak tidak akan mampu belajar mengamati sikap orang lain untuk mengembangkan kontrol dirinya, apabila orang tuanya sendiri sering kali dalam keadaan stres. Justru hal ini akan membuat anak meniru sikap orang tuanya tersebut. Kekerasan yang menimbulkan trauma juga salah satu penyebab dari krisis kontrol diri yang buruk saat ini. Pengalaman apapun yang dirasakan oleh anak-anak akan memberi pengaruh yang besar terhadap kontrol diri. Terlebih pengalaman kekerasan, keluarga yang tumbuh dalam kekerasan, kemungkinan besar anak-anaknya akan tumbuh menjadi anak nakal. Selain dua faktor tersebut, ketergantungan yang berlebihan pada obat daripada mengendalikan diri juga memiliki pengaruh yang besar terhadap krisis kontrol diri yang buruk. Penggunaan obat-obat untuk mengontrol perilaku impulsif, hiperaktif, dan kurang konsentrasi ini akan membuat anak ketergantungan terhadap zat-zat kimia untuk mengontrol perilaku mereka, padahal semestinya diajarkan cara menahan dorongan yang mereka hadapi. Faktor yang keempat adalah kekerasan dalam dunia hiburan. Dunia hiburan sekarang ini sebagian besar mengandung unsur kekerasan seperti pada tayangan televisi dan video game. Apa yang anak-anak lihat dalam tayangan film dan video game yang berbau kekerasan akan sangat berpengaruh pada perilaku mereka. Banyak penelitian menyebutkan bahwa akibat dari media hiburan yang mengandung unsur kekerasan akan menimbulkan perilaku agresif pada anak. Anak akan menjadi seorang yang impulsif dan juga destruktif.
3.      Cara untuk menumbuhkan kontrol diri dalam diri anak adalah dengan tiga cara, yang pertama memberikan contoh kontrol diri dan menjadikan hal tersebut sebagai prioritas. Pada tahap ini kita menunjukkan bagaimana cara kita untuk memulai menumbuhkan kontrol diri dalam diri anak dan beberapa perilaku yang efektif digunakan dalam memberikan contoh tentang kontrol diri. Langkah yang kedua, yaitu mendorong anak agar memotivasi dirinya sendiri. Dengan demikian anak akan menjadi lebih percaya diri dan mereka akan sadar bahwa kontrol diri itu harus mereka miliki. Pada langkah ini memberikan strategi yang dapat membantu anak untuk mengembangkan sistem pengaturan internal dalam membangun kontrol diri mereka. Selanjutnya adalah membantu anak belajar untuk mengontrol diri dalam keadaan stres atau situasi penuh godaan agar mereka memiliki sikap berpikir sebelum bertindak. Dengan tiga cara yang digunakan tersebut akan membantu anak untuk selalu bertindak benar.



DAFTAR REFERENSI

Borba, M. (2008). Membangun kecerdasan moral. Jakarta: Gramedia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar