MAKALAH LANDASAN PENDIDIKAN
KONTROL DIRI
SEBAGAI SUATU KECERDASAN MORAL YANG HARUS DIBANGUN
Dosen Pengampu :
Gregorius Ari. N., SJ., M.A.

Disusun
oleh :
Kelompok
7 (Kelas 2-E)
1. Gabriella
Muna Yulinar (141134218)
2. Vicensia
Nataliardila (141134219)
3. Maria
Krusita (141134220)
PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
JURUSAN
ILMU PENDIDIKAN
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
2015
Puji syukur senantiasa kami
panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini
dengan baik dan lancar.
Penulisan makalah ini dalam rangka
memenuhi tugas mata kuliah landasan pendidikan. Adapun makalah ini membahas
mengenai kontrol diri sebagai suatu kecerdasan moral yang perlu untuk
dikembangkan dan dibangun. Makalah ini telah kami usahakan semaksimal mungkin dan
tentunya dengan bantuan dari berbagai sumber. Untuk itu kami tidak lupa menyampaikan
terima kasih kepada semua sumber yang telah memberikan informasi sehingga sangat
membantu kami dalam menyelesaikan makalah ini.
Tidak lepas dari itu semua, kami
menyadari sepenuhnya bahwa masih banyak kekurangan dalam makalah ini baik dari segi
penyusunan bahasa maupun dari segi lainnya. Oleh karena itu kritik dan saran
sangat diharapkan dari para pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
Semoga
apa yang telah kami sampaikan dalam makalah ini berguna untuk menambah wawasan
pengetahuan khususnya bagi kami sendiri, umumnya bagi pembaca.
Yogyakarta,
11 Mei 2015
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Krisis
yang nyata dan mengkhawatirkan dalam masyarakat kita sekarang ini banyak sekali melibatkan anak-anak. Hal ini terlihat
dari berita-berita sehari-hari berisi tragedi yang mengejutkan dan data
statistik mengenai perkembangan anak-anak membuat kita tercengang, khawatir,
dan berusaha untuk mencari jawaban atas persoalan tersebut. Dalam buku Building Moral Intelligence yang ditulis
oleh Michele Borba terdapat data laporan Akademi Ilmu Kesehatan Anak Amerika yang
menunjukkan bahwa negara Amerika Serikat mencapai angka bunuh diri dan
pembunuhan yang dilakukan remaja tertinggi di antara 26 negara-negara makmur di
dunia.
Gambaran
tersebut memperlihatkan bahwa moral pada anak sudah sangat buruk sehingga upaya
untuk mengatasi krisis moral pada anak-anak sangat dibutuhkan dari berbagai
pihak, terutama orang tua dan pendidikan. Di dalam keluarga peran orang tua
sangat penting untuk mendidik moral anak-anaknya, karena keluarga adalah tempat
pertama untuk anak mendapatkan pendidikannya. Begitu pula dengan pendidikan
yang memiliki peran yang tidak kalah penting untuk mendidik para siswanya
supaya memiliki moral yang baik.
Berbagai macam strategi dalam berbagai
bidang diupayakan salah satunya dalam bidang pendidikan yang menuntut guru
untuk mengajarkan rasa percaya diri dan kemampuan mengatasi konflik serta para
penasihat yang mengajarkan keterampilan sosial dan cara mengendalikan
kemarahan, juga para psikolog dengan berbagai teori-teori baru yang lebih
lengkap, seperti Howard Gardner merombak pemahaman kita tentang kemampuan
kognitif anak dengan teori kecerdasan majemuk dan Daniel Goleman yang
memperkenalkan kecerdasan emosi.
Dari masalah tersebut menyadarkan kita
bahwa membangun kecerdasan moral salah satunya adalah kontrol diri dalam diri
anak itu penting, karena hal tersebut yang diharapkan untuk menyelamatkan
moralitas mereka. Dengan demikian anak akan memiliki kemampuan untuk memahami
hal yang benar dan yang salah serta menuntun mereka untuk selalu bertindak
benar.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa yang
dimaksud dengan kontrol diri?
2.
Apa yang
menyebabkan timbulnya krisis kontrol diri yang buruk?
3.
Bagaimanakah
cara untuk membangun sebuah kontrol diri dalam diri anak?
C.
Tujuan Makalah
1.
Mengetahui penjelasan
mengenai kontrol diri.
2.
Mengetahui
penyebab timbulnya krisis kontrol diri yang buruk.
3.
Mengetahui cara
untuk membangun kontrol diri dalam diri anak.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Penjelasan mengenai Kontrol Diri
Jika Anda bertanya
kepada anak-anak apakah berbohong, mencuri, menyontek, atau membunuh orang itu
tindakan yang kurang benar, sebagian besar akan menjawab bahwa itu perbuatan
yang salah. Namun, pemahaman itu tidak cukup; mereka hanya dapat membedakan antara
yang benar dan yang salah. Itulah sebabnya mengapa hanya sedikit anak mau
berkomitmen terhadap tindakan yang mereka katakan tidak benar itu. Untuk dapat
menahan dorongan impulsif perlu unsur ketiga kecerdasan moral—kontrol diri—dan
tampaknya ini merupakan hal yang kurang kita ajarkan kepada anak-anak
belakangan ini (Borba, 2008: 104).
Dalam buku tulisan
Daniel Goleman, Emotional Intelligence,
diuraikan hasil survei nasional yang dilakukan secara acak pada pertengahan
tahun 1970 (Borba, 2008: 104). Pada survei itu anak-anak Amerika usia tujuh
hingga empat belas tahun diberi penilaian oleh orangtua dan guru mereka (Borba,
2008: 104). Kemudian survei yang sama diulangi kembali pada akhir tahun 1980.
Riset menunjukkan adanya gejala yang mengkhawatirkan: rata-rata anak mengalami
penurunan dalam 42 indikator dasar kesehatan emosi dan tak satu pun yang
meningkat (Borba, 2008: 104). Penelitian ini mirip dengan data yang dinyatakan
dokter anak bahwa masalah kesulitan belajar dan sifat hiperaktif mengalami
peningkatan dari 1,4 persen menjadi 9,2 persen dalam dua dekade (Borba, 2008:
104). Anak-anak zaman sekarang dibandingkan dengan generasi sebelumnya lebih
impulsif dan tidak patuh, lebih mudah tersinggung dan kasar, serta lebih
pencemasan dan penakut. Kontrol diri mereka yang lemah jelas menghambat
pertumbuhan moral mereka.
Empati membantu anak
memahami perasaan orang lain, hati nurani membantu mereka membedakan antara
benar dan salah, dan kontrol diri membuat anak mampu menahan diri dari dorongan
hawa nafsu sehingga ia dapat melakukan sesuatu yang benar berdasarkan hati dan
pikirannya (Borba, 2008: 104). Jika anak mempunyai kontrol diri, ia tahu
dirinya punya pilihan dan dapat mengontrol tindakannya. Ini merupakan kebajikan
yang menjadikan anak baik dan murah hati. Mereka mengesampingkan hal-hal yang
sifatnya memuaskan diri sendiri serta mengarahkan hati nurani melakukan sesuatu
untuk orang lain. Kontrol diri juga membekali anak dengan karakter yang kuat
karena menahan mereka memanjakan diri dengan bersenang-senang dan justru
memusatkan pada tanggung jawab (Borba, 2008: 104). Kontrol diri juga
menyadarkan anak akan adanya konsekuensi berbahaya atas tindakan yang
dilakukannya, sehingga dengan kesadaran tersebut anak dapat mengontrol
emosinya. Para ahli mengatakan, walaupun temperamen bawaan dan susuanan
biologis berpengaruh bagi kemampuan anak mengontrol diri, studi menunjukkan
bahwa anak dapat diajarkan cara pengendalian perilaku mereka (Borba, 2008: 104).
B.
Penyebab Krisis Kontrol Diri yang Buruk
Kontrol
diri membantu anak mengendalikan perilaku mereka, sehingga mereka dapat
bertindak benar berdasarkan pikiran dan hati nurani mereka (Borba, 2008: 96-97).
Kontrol diri memberi anak kemampuan mengatakan “tidak”, melakukan hal yang
benar, dan memilih melakukan tindakan bermoral. Hal ini merupakan mekanisme
internal yang sangat berpengaruh, yang mengarahkan sikap moral anak, sehingga
pilihan yang mereka ambil tidak hanya aman tetapi bijak (Borba, 2008: 97). Kontrol
diri merupakan kekuatan moral yang secara sementara menghentikan tindakan yang
berbahaya. Karena itu, memberi waktu khusus kepada anak untuk membayangkan
konsekuensi yang munkin timbul akibat perbuatannya akan menumbuhkan kontrol
diri, sehingga anak dapat mengerem perilakunya dan tidak akan melakukan
tindakan yang berbahaya. Jelas, kontrol diri dapat membantu anak melakukan
tindakan bermoral—dan ini khususnya sangat penting bagi anak yang tumbuh di
lingkungan yang penuh kekerasan dan di dunia yang semakin tidak menentu ini
(Borba, 2008: 97).
Jika
tiga kebajikan utama kecerdasan moral—yaitu empati, hati nurani, dan kontrol
diri—tidak ada dalam diri anak, hal ini kan menjadi bom waktu yang siap meledak
kapan saja (Borba, 2008: 97). Tidak mampu memahami perasaan orang lain, tidak
mempunyai suara hati yang mengarahkan mereka bertindak benar, dan tidak mampu
mengontrol hawa nafsu membuat anak tidak berdaya menangkis pengaruh-pengaruh
buruk yang mengadang mereka. Dari ketiga kebajikan tersebut, para ahli melihat,
kontrol dirilah yang paling kurang berkembang (Borba, 2008: 97). Meski ada
banyak alasan megapa kontrol diri tidak berkembang dengan baik pada anak-anak
muda, empat hal yang diuraikan berikut ini tergolong yang paling memengaruhi
dan menjadi sebab terjadinya krisis perkembangan kontrol diri (Borba, 2008: 97).
1.
Kesibukan Orang Tua yang Menimbulkan Stres
Cara
terbaik bagi anak belajar kontrol diri adalah mengamati sikap orang lain, orang
tua yang sering kali dalam keadaan stres akan menularkan hal tersebut kepada
anak-anak (Borba, 2008: 98). Anak dari keluarga dengan kedua orang tua yang
bekerja, orang tua tunggal yang bekerja, orang tua yang tidak bekerja, dan
keluarga yang masih memegang tradisi, untuk menilai pola asuh yang diterapkan hasilnya
menunjukkan, baik bekerja di luar maupun tidak, anak-anak menilai bahwa ibu-lah
yang paling tidak dapat mengendalikan amarah jika mereka membuat ibunya kesal
(Borba, 2008: 98). Beberapa contoh perilaku implusif yang dilihat anak:
meluapkan amarah, mengonsumsi alkohol, dan obat-obatan, berjudi, merokok, makan
berlebihan, menonton televisi terlalu sering, berbelanja secara berlebihan, dan
mengutuk atau menyumpah.
Jika kita memperhitungkan waktu yang digunakan untuk
bekerja, tidur, dan perjalanan bolak-balik antara rumah dan tempat kerja, orang
tua hanya menyisakan waktu dua hingga tiga jam perhari untuk anak-anak.
Artinya, anak banyak berhubungan dengan pengasuh lain. Padahal untuk mendorong
kontrol diri secara efektif perlu sikap konsisten; pengasuh yang berbeda-beda
dengan aturan yang berbeda-beda akan berpengaruh buruk bagi perilaku anak.
Terlebih lagi, waktu yang dipergunakan orang tua masa kini bersama-sama anak
mereka 40 persen di bawah waktu yang dilewatkan orang tua mereka dahulu, dan
dalam sepekan berkurang sebelas jam dibandingkan dengan generasi tahun 1960-an
(Borba, 2008: 98-99). Ini juga berarti bahwa orang tua kurang meluangkan waktu
membicarakan pentingnya kontrol diri dan mengajari anak berfikir sebelum
bertindak. Dengan demikian, budaya kita yang semakin tergesa-gesa dan
menimbulkan stres menjadi faktor yang mempengaruhi lemahnya kontrol diri
(Borba, 2008: 99).
2.
Kekerasan yang Menimbulkan Trauma
Tiga
tahun pertama merupakan masa-masa krisis perkembangan kontrol diri karena pada
saat itulah korteks otak berkembang; di korteks-lah tempat terjadinya proses
berpikir yang lebih tinggi, yang mengontrol moralitas dan dorongan-dorongan
yang ada (Borba, 2008: 99). Banyak efek buruk yang terjadi pada otak anak-anak
akibat dari kekerasan, kelalaian, atau kebengisan yang berulang-ulang dimasa
kanak-kanak. Salah satu akibat tragis yang muncul adalah rendahnya kemampuan
mengontrol dorongan yang timbul; anak-anak tersebut beresiko tinggi melakukan
tindakan agresif dan mengalami berbagai masalah sepanjang hidup (Borba, 2008:
99).
Cedera
otak pada usia dini bisa mengubah susunan kimia otak, membuat anak rawan
terhadap perilaku kasar dan kurang dapat mengendalikan kemarahan (Borna, 2008:
99). Tindak kekerasan dipengaruhi oleh faktor genetika dan lingkungan.
Anak-anak yang berada dalam keluarga yang penuh dengan kekerasan
kemungkinananya lima kali lebih besar menjadi anak nakal (Borba, 2008: 99-100).
Tiga juta anak setiap tahun dilaporkan menjadi korban kekerasan dan kelalaian
orang tua, dan satu dari korban yang mengalami tindak kekerasan fisik adalah
bayi di bawah umur dua belas bulan (Borba, 2008: 100). Data ini menunjukkan
kemungkinan meningkatnya penurunan kontrol diri jika kondisi tersebut
diabaikan.
3.
Ketergantungan yang Berlebihan pada Obat daripada
Mengendalikan Diri
Apoteker
mungkin termasuk orang yang paling menyadari terjadinya krisis kontrol diri
karena melihat banyaknya resep yang mencantumkan Ritalin, yaitu stimulun yang
telah disetujui pemakaiannya untuk mengontrol perilaku impulsif, hiperaktif,
dan kurang konsentrasi. Para ahli berpendapat bahwa kasus pemakaian Ritalin
kepada anak yang mengalami kesulitan mengontrol impuls dan pola berpikirnya
karena pengaruh buruk sosial dan pola asuh yang buruk, dan bukan karena
benar-benar persolan akibat gangguan saraf atau biologis (Borba, 2008: 100).
Bahayanya, mereka bisa mengalami ketergantungan terhadap zat-zat kimia untuk
mengontrol perilaku mereka, padahal semestinya diajarkan cara menahan dorongan
yang mereka hadapi, yang membuat khawatir, semakin lama hal ini semakin
menyerang anak-anak yang lebih kecil
4.
Pengagungan Kekerasan dalam Dunia Hiburan
Riset telah membuktikan bahwa anak-anak belajar
kontrol diri bukan hanya secara langsung dari orang tua, guru, dan teman tetapi
juga dari tokoh-tokoh dalam buku, film, dan televisi (Borba, 2008: 101). Akademi
Ilmu Kesehatan Anak Amerika menyebut media di sana sebagai “yang paling keras
di dunia” (Borba, 2008: 101). Anak usia prasekolah, yang rata-rata menonton
film kartun selama dua jam di televisi setiap hari, melihat tindak kekerasan
sebanyak 10.000 kali dalam setahun (Borba, 2008: 101). Rata-rata anak
menyaksikan 8.000 kasus pembunuhan pada saat lulus sekolah dasar dan 200
tindakan kekerasan di usia delapan belas tahun (Borba, 2008: 101).
Studi yang dilakukan selama tiga
tahun oleh empat universitas menganalisis acara televisi selama 10.000 jam
(tidak termasuk siaran berita dan olahraga) menemukan bahwa lebih dari
sepertiga adegan kekerasan menampilkan tokoh “jahat” yang bebas dari hukuman;
70 persen karakter tersebut tidak menunjukkan penyesalan saat melakukan
kejahatan; 50 persen dari tindak kekerasan menunjukkan bahwa korban tidak
menunjukkan kesakitan; 40 persen dari seluruh kekerasan dipadukan dengan humor;
40 persen kekerasan diperankan oleh tokoh yang menarik dan bersikap seperti
pahlawan; dan kurang dari 5 persen acara yang menggambarkan tindak kekerasan
tersebut menyampaikan pesan anti kekerasan (Borba, 2008: 101).
Televisi bukan satu-satunya faktor
yang mendorong tindak kekerasan. Pengaruh yang ditimbulkan jelas ada-terutama
bagi mereka yang rentan karena pengaruh stres lingkungan dan biologis (Borba,
2008: 101). Hasil lebih dari seribu penelitian yang dilakukan, termasuk laporan
dari biro Kesehatan Publik dari Institut Kesehatan Mental Nasional menyimpulkan
bahwa menonton tindak kekerasan di televisi mengakibatkan perilaku agresif pada
sebagian anak (Borba, 2008: 102). Asosiasi Psikologi Amerika memperkirakan
bahwa kekerasan di televisi berpengaruh hingga 15 persen terhadap perilaku
agresif anak (Borba, 2008: 102). Pusat Pendidikan Media di Washington D.C.
menemukan, anak-anak yang menonton televisi selama empat jam atau lebih dalam
sehari cenderung lebih banyak menggunakan agresi fisik dalam menyelsesaikan
konflik yang dihadapinya dan lebih banyak menunjukkan perilaku impulsif.
Video
game merupakan hiburan keluarga yang paling populer setelah televisi, dan
hampir sepertiga dari video game
paling tahun 1999 mengandung kekerasan dan ini merupakan jenis yang paling
digemari (Borba, 2008: 102). Survei terhadap 800 anak kelas empat SD hingga
kelas dua SMP menunjukkan, setengah dari mereka menyatakan bahwa game yang mereka sukai sebagian besar
mengandung unsur kekerasan (Borba, 2008: 102). Studi terbaru yang membadingkan video game yang mengandung kekerasan dan
yang tidak mengandung kekerasan yang dipublikasikan oleh The Journal of Personality and Social Psychology, menegaskan bahwa video game juga menyebabkan perilaku
agresif pada anak dan menimbulkan sikap mudah tersinggung pada pemainnya dan
hal inilah yang menentukan perilaku agresif (Borba, 2008: 102).
Video game yang populer dikalangan
anak-anak menerapkan teknik latihan ala militer yang menciptakan karakter
prajurit berdarah dingin. Ini berarti, banyak anak-anak yang menghabiskan waktu
menyaksikan kekerasan tanpa perasaan dan kemungkinan besar mereka akan menganggap
tindak kekerasan itu bisa diterima. Tentu saja tidak setiap anak yang bermain video game akan menjadi pembunuh, tetapi
video game yang mengandung kekerasan
melatih anak-anak untuk menjadi seorang pembunuh dan bahkan mengajarkan mereka
untuk menikmati hal tersebut. Akademi Ilmu Kesehatan Anak Amerika juga
menunjukkan bahwa “anak-anak yang sejak usia dini menyaksikan progam yang
mengandung kekerasan cenderung berperilaku keras dan agresif dibandingkan
anak-anak lain yang tidak mengalami hal yang sama.” (Borba, 2008: 103).
Keempat faktor tersebut adalah penyebab dari krisis
kontrol diri. Tentu saja bukan hanya satu faktor yang mempengaruhi anak untuk
berperilaku agresif, melainkan akumulasi dari berbagai pengaruh buruk yang
melemahkan pertahanan mereka dan dapat memunculkan sikap impulsif dan
destruktif. Akan tetapi, karena pengaruh-pengaruh tersebut cukup besar dan hal
ini mendorong kita untuk menumbuhkan kontrol diri dengan sungguh-sungguh.
Dengan demikian kita tidak hanya mengajari anak mengetahui dan merasakan hal
yang baik dan benar, tetapi juga mengajari anak untuk bertindak benar.
C.
Cara untuk Membangun Kontrol Diri dalam Diri Anak
Ada tiga langkah penting dalam membangun
kontrol diri pada anak-anak (Borba, 2008: 107). Langkah pertama adalah
memperbaiki perilaku Anda sehingga dapat memberi contoh kontrol diri yang baik
bagi anak dan menunjukkan bahwa bahwa hal tersebut adalah prioritas. Langkah
kedua adalah membantu anak menumbuhkan sistem regulasi internal sehingga dapat
menjadi motivator bagi diri mereka sendiri. Langkah ketiga mengajarkan cara
membantu anak menggunakan kontrol diri ketika menghadapi godaan dan stres,
mengajarkan berpikir sebelum bertindak sehingga mereka akan memilih sesuatu
yang aman dan baik.
Langkah 1: Beri
Contoh Kontrol Diri dan Jadikan hal tersebut sebagai Prioritas.
Langkah
pertama ini menunjukkan bagaiman cara Anda memulai menumbuhkan kontrol diri
dalam diri anak sehingga Anda juga dapat menunjukkan pentingnya hal tersebut
(Borba, 2008: 109). Karena memberi contoh merupakan cara terbaik mengajari
anak, bagian ini juga menguraikan beberapa perilaku orang tua yang efektif
dalam memberi contoh tentang kontrol diri. Semakin cepat kita tumbuhkan kontrol
diri pada anak, semakin mudah menjadikan hal tersebut sebagai kebiasaan moral yang
mengarah tindakan mereka. Cara terbaik mengajarkan moralitas pada anak adalah
dengan melihat contoh yang diberikan orang tua (Borba, 2008: 110). Contoh yang
kita berikan merupakan hal terbaik untuk membuat anak menyerap nilai-nilai
moral kontrol diri. Perilaku Anda merupakan buku pelajaran bagi anak, jadi
tanyakan pada diri Anda, pelajaran apa yang didapat anak dari diri Anda.
Ø Empat Kebiasaan Keluarga yang dapat Menumbuhkan
Kontrol Diri
Kita
tak dapat mengubah anak yang impulsif menjadi pasif, tetapi kita dapat
mengajarkan keagresifannya sehingga anak dapat bereaksi lebih tenang. Sebagian
besar kemampuan mengontrol diri itu dapat dipelajari bukan diturunkan, dan
tempat terbaik melatih kemampuan itu adalah keluarga (Borba, 2008: 111).
Berikut ada empat kebiasaan yang dapat Anda terapkan untuk membangkitkan
kontrol diri pada anak (Borba, 2008: 111).
1.
Ajarkan Makna dan Nilai Kontrol Diri. Jika Anda menginginkan anak-anak mengembangkan
kontrol diri, jelaskan makna kebajikan tersebut. Kontrol diri adalah kemampuan
tubuh dan pikiran untuk melakukan apa yang semestinya dilakukan (Borba, 2008:
112). Inilah yang membuat kita mampu membuat pilihan yang tepat ketika
menghadapi godaan, walaupun pada saat itu muncul pikiran dan ide buruk dalam
kepala kita. Kontrol diri membuat kita memikirkan apa yang akan terjadi jika
kita mengambil pilihan yang berbahaya. Kontrol diri menjauhkan kita dari
persoalan dan membantu kita bertindak tepat (Borba, 2008: 112). Tekankan bahwa
sering kali kita ingin melakukan sesuatu yang tidak semestinya, jadi kontrol
diri itu tidak selalu mudah. Kadang diperlukan kekuatan dan keberanian. Anda
bisa tanyakan kepada anak hal apa yang sulitditahannya. Selanjutnya sering seringlah
menyebutkan kata-kata kontrol diri agar anak mengerti betapa pentingnya hal
tersebut dan ketika anak Anda berhasil menahan godaan, tunjukkanlah bahwa itu
yang dimaksud kontrol diri dan dorong agar ia terus melakukannya.
2.
Tekadkan mengajarkan kontrol diri pada anak. Orang tua yang sangat ingin anak-anaknya menunjukkan
kontrol diri biasanya lebih berhasil karena mereka memiliki tekad yang kuat
untuk menerapkannya (Borba, 2008: 112). Jika Anda ingin anak mempunyai kontrol
diri yang kuat, tetapkan niat Anda untuk memupuk sifat tersebut dalam diri
mereka. Kemudian Anda harus berpegang teguh pada tekad Anda sampai anak Anda
menunjukkan adanya kemajuan.
3.
Buatlah moto kontrol diri dalam keluarga. Buatlah moto keluarga Anda sendiri untuk
mengingatkan anak-anak bahwa kontrol diri merupakan sikap yang sangat penting
(Borba, 2008: 114).
4.
Buat aturan bahwa hanya boleh bicara dalam keadaan
terkontrol. Kalau seseorang merasa
akan kehilangan kendali, ia akan minta waktu sebentar: ini berarti ia
hendak menenangkan diri dulu, kemudian
ia pergi dan akan kembali setelah merasa lebih tenang (Borba, 2008: 114).
Jelaskan konsep ini padakeluarga Anda kemudian diskusikan cara mengendalikan
emosi selama mengendalikan diri. Tekankan juga, setelah aturan diterapkan,
semua harus menghormatinya. Aturan ini khususnya berguna bagi anak-anak yang
mengalami kesulitan kontrol diri atau jika anak remaja Anda sangat
emosional.
Langkah 2 : Doronglah
agar Anak Memotivasi Diri
Salah
satu tugas terberat adalah mendidik anak agar percaya diri (Borba, 2008: 118).
Meskipun kita mesti mendorong anak agar berhasil, pada akhirnya mereka
sendirilah yang harus mempunyai keinginan untuk itu. Inilah bagian dari kontrol
diri. Tujuan kita adalah membuat anak sadar bahwa ia dapat mengontrol hidup dan
pilihannya.
Tentu
saja kontrol diri tumbuh secara perlahan seiring dengan waktu, tetapi kita
dapat membantu anak-anak yang masih kecil dengan mendorong mereka agar tidak
mengharapkan hadiah atau pujian orang lain atas sikap baiknya. Ini sudah
merupakan langkah besar (Borba, 2008: 118-119). Sepertinya sekarang ini
anak-anak dididik untuk mengharapkan hadiah sejak kecil. Bahayanya, mereka akan
mengharapkan pujian, gambar, stiker, atau uang atas keberhasilan yang dicapai.
Mereka bukannya mengembangkan kontrol internal melainkan mengembangkan sistem
kontrol eksternal yang mengharapkan orang lain melihat (atau mengomentari)
perbuatan mereka.
Anak-anak memiliki kecerdasan moral
memilih berperilaku baik karena tahu bahwa memang itu yang semestinya dilakukan
dan karena berperilaku baik sudah cukup sebagai penghargaan itu sendiri (Borba,
2008: 119). Semakin mampu mengandalkan diri, semakin terbentuk kekuatan dan
kontrol diri mereka. Langkah kedua ini memberikan strategi yang dapat membantu
anak mengembangkan sistem pengaturan internal dalam membangun kontrol diri mereka—kebajikan
utama yang ketiga dari kecerdasan moral (Borba, 2008: 119).
Ø Lima Cara Mendorong Anak Melakukan Tugas dengan Baik
Dalam proses perkembangan moral, hal
terburuk yang bisa terjadi adalah jika anak mau mengerjakan sesuatu hanya kalau
ada imbalan yang didapatnya (Borba, 2008: 119). Strategi di bawah cukup
sederhana untuk membuat anak bertanggung jawab dalam mengatur perilaku mereka
sendiri (Borba, 2008: 119).
1.
Ubahlah kata ganti dari “aku” mennjadi “kamu”. Cara termudah untuk menjauhkan anak dari kontrol
eksternal adalah dengan mengubah kata ganti dalam pujian Anda: ubah “aku”
menjadi “kamu” (Borba, 2008: 119). Dengan demikian penekanan pada si anak yang
melakukan sikap baik. Ini juga membantu anak mengatur sikapnya sendiri
2.
Tumbuhkan pujian internal. Kita bisa saja mengungkapkan kepada anak dari pagi
hingga malam betapa bangganya kita, tetapi pada akhirnya mereka harus
mengandalkan dorongan dalam diri sendiri (Borba, 2008: 120). Saya melihat
banyak anak begitu bergantung pada pujian kita sehingga mereka tidak bisa
melihat sendiri perbuatan baik mereka. Cara paling sederhana membantu mereka
adalah menunjukkan bahwa tindakan mereka memang sudah semestinya begitu,
kemudian ingatan mereka agar menginternalkan hal tersebut (Borba, 2008: 120).
3.
Mintalah agar anak menghargai perbuatannya sendiri. Borba tengah mengamati seorang guru kelas empat di
Atlanta menerapkan suatu teknik sederhana, tetapi sangat berhasil (Borba, 2008:
120). Salah satu muridnya sering mendapat hukuman karena melontarkan komentar
buruk dan jahat terhadap kawannya. Si guru telah mencoba berbagai pendekatan
dan menurutnya tidak satu pun berhasil. Lalu, suatu ketika para murid harus
mengerjakan tugas ilmiah secara berkelompok, anak itu tidak hanya mau bekerja
sama, tetapi juga mau mambantu teman-teman satu kelompoknya. Guru tadi
memanggilnya dan menyodorkan selembar kertas beserta amplop dan berkata, “Kau
hebat seklai hari ini, Eli. Kau bisa bekerja sama dan membantu teman-teman
sekelompok. Tulislah surat untuk ayah-ibumu sekarang, ceritakan tentang sikapmu
itu dan betapa hebatnya kamu, nanti ibu akan tanda tangani suratnya. Setelah
itu, kita kirim surat tersebut lewat pos.” Seketika wajah anak itu berbinar.
Guru itu memujinya dan secara spesifik mengatakan perbuatan yang pantas mendapat
pujian itu, sekaligus membuat Eli melihat sikapnya tersebut sebagai pendorong
bagi dirinya. Dengan demikian, guru tadi menumbuhkan kontrol diri anak itu.
4.
Buat jurnal keberhasilan. Seorang ibu asuh mengungkapkan cara agar anak
terdorong oleh sikapnya sendiri. Menurutnya, anak selalu berusaha menyenangkan
orang lain sehingga sering tidak menyadari usaha dan keberhasilannya sendiri.
Jadi, ibu itu pun membuat jurnal untuk masing-masing anak. Setidaknya seminggu
sekali ia meminta setiap anak menuliskan (atau menggambarkan) keberhasilannya.
Ibu itu juga menjelaskan bahwa ia selalu mengatakan kepada anak-anaknya
definisi sebenarnya dari keberhasilan adalah
keuntungan. Keberhasilan adalah kemajuan apa pu—besar maupun kecil—yang
dicapai anak (Borba, 2008: 121). Rutinitas sederhana ini membantu anak secara
perlahan menyadari bahwa mereka dapat mengontrol hidup mereka sendiri.
5.
Buatlah sertifikat. Seorang guru kelas tiga SD di Aurora, Colorado,
membuat sebuah pusat penghargaan di kelasnya (Borba, 2008: 121). Guru tersebut
mengatakan, ia membuat pusat penghargaan itu karena anak terbiasa mendapat
penghargaan dari guru-guru lain sehingga mereka pun sering menanyakan kapan
akan diberi penghargaan. Dengan membiarkan murid membuat sendiri serifikat
tersebut, mereka pun tak lagi mengharapkan pujian dari guru dan justru
mendorong diri sendiri untuk bertindak (Borba, 2008: 121). Banyak orang tua
yang menerapkan hal tersebut dan menurut mereka anak-anak menyukainya.
Ø Pujian yang Menumbuhkan Kepercayaan Diri
Pujian merupakan strategi terkuno yang
digunakan orangtua mendorong anak bersikap baik (Borba, 2008: 122). Namun,
benarkah hal tersebut meningkatkan moral anak? Hal inilah yang ingin diteliti
psikolog Joan Grusec. Beliau beserta sekelompok peneliti melakukan pengamatan
terhadap anak-anak dan menemukan bahwa mereka yang sering dipuji oleh ibunya
ketika bersikap manis cenderung bersikap kurang manis dalam kesehariannya
dibandingkan dengan anak-anak lain (Borba, 2008: 122-123).
Alfie Kohn, penulis buku Punished by Reward mengungkapkan:
“Setiap komentar yang kita lontarkan—dan khususnya setiap pujian yang kita
berikan—harus kita pertimbangkan apakah hal tersebut membantu individu merasa
dapat mengendalikan hidupnya” (Borba, 2008: 123). Ada empat hal yang dapat
membuat pujian menjadi efektif dalam meningkatkan moral dan mencegah anak
melakukan sesuatu demi menyenangkan kita. Ini dapat dilakukan untuk
membangkitkan motivasi dari dalam diri anak (Borba, 2008: 123).
1.
Puji tindakannya, bukan memuji si anak. Tujuan pujian yang efektif adalah mengajari anak
baik dan buruk dan mengerti cara memperbaiki sikap (Borba, 2008: 123). Jadi,
kita harus memfokuskan pujian pada
perilaku anak, bukan pada anakitu
sendiri.
2.
Beri pujian yang spesifik. Ketika Anda melihat anak bersikap sesuai harapan
Anda, ungkapkan agar ia tahu hal tersebut (Borba, 2008: 123). Misalnya, jika
Anda melihat anak mampu mengontrol diri, secara spesifik ungkapkan sikap
baiknya itu: “Kamu tidak mendorong Kim. Berarti kamu bisa mengontrol diri.”
3.
Beri pujian yang sepantasnya. Anak-anak tahu kapan mereka mesti mendapat pujian,
jadi berikanlah pujian sepantasnya: “Kamu mengerjakan PR dengan sabar,
hasilanya rapi sekali.”
4.
Puji dengan tulus.
Bersikaplah tulus dan jujur, dan tunjukkan perilaku baik yang dikerjakan anak
(Borba, 2008: 124). Anak-anak tahu ketika pujian yang diberikan tidak tulus dan
jujur.
Langkah 3 :
Ajarkan Cara Mengontrol Dorongan agar Berpikir sebelum Bertindak
Semua orang tua merasa khawatir melihat kekerasan
yang banyak terjadi akhir-akhir ini. Banyak
sekali data yang menunjukkan kasus-kasus mengenai tindakan remaja saat ini,
salah satunya adalah penelitian besar yang dilakukan Carnegie Corporation yang
menyatakan bahwa pada usia tujuh belas tahun, seperempat remaja Amerika
terlibat “perbuatan yang membahayakan bagi dirinya dan orang lain.” (Borba,
2008: 125). Survei nasional pada tahun 19998 menunjukkan, hampir satu dari
empat pelajar putra di SMP dan SMA menyatakan pernah memukul orang “karena
marah” dalam waktu satu tahun terakhir, 24 persen pelajar putra SMA mengaku
membawa senjata ke sekolah setidaknya sekali dalam satu tahun terakhir (Borba,
2008: 125).
Dalam hal ini diperlukan sebuah
strategi untuk membantu anak belajar mengontrol diri dalam keadaan stres atau
situasi penuh godaan-agar berpikir
sebelum bertindak. Dalam kondisi seperti sekarang ini, strategi-strategi
ini merupakan hal terpenting yang mesti kita ajarkan kepada anak-anak.
Ø Empat Strategi Mengendalikan Amarah agar Anak Dapat
Menghadapi Situasi yang Membuat Stres
Pada tahun 1960,
seorang psikolog bernama Walter Mischel dari Universitas Stanford melakukan apa
yang sekarang dikenal sebagai Tes Marshmallow (Borba, 2008: 126). Mereka
menguji anak-anak yang berusia empat tahun dengan marshmallow. Mereka menggolongkan anak-anak yang sabar menunggu
diberi marshmallow dengan anak-anak yang
tidak sabar menunggu dan melihatnya kembali saat mereka dewasa. Penelitian
menunjukkan bahwa anak-anak yang pada saat umur empat tahun sabar menunggu
untuk mendapatkan marshmallow ternyata
lebih baik dalam segi sosial: lebih efektif, lebih asertif, dan lebih mampu
mengatasi hal-hal yang membuat frustasi (Borba, 2008: 127). Kelompok anak yang
sabar menunggu menunjukkan hasil tes masuk perguruan tinggi yang cukup tinggi
dibandingkan para remaja yang pada saat usia empat tahun tidak sabar menunggu.
Hasil penelitian tersebut menunjukkan pentingnya anak mengembangkan kemampuan
menahan diri dan belajar mengontrol diri (Borba, 2008: 127).
Tidak
mudah mengajari anak mengatasi perasaanya-khususnya jika sebelumnya mereka
selalu mengatasi masalah dengna cara agresif, namun sama halnya dengan
kekerasan yang didapat dengan cara belajar, kontrol diri pun dapat dipelajari.
Berikut empat cara agar anak dapat mengatasi perasaannya dan mengendalikan diri
dalam situasi yang membuat stres.
1.
Belajar mengungkapkan dengan kata-kata. Kebanyakan
anak bersikap agresif karena tidak tahu cara mengekspresikan perasaan
frustasinya dengan cara lain (Borba, 2008: 127). Mereka hanya dapat menunjukkan
perasaan dengan cara menendang, berteriak, menyumpah, memukul, atau
melempar-lempar benda. Anak-anak perlu belajar mengungkapkan perasaan dengan
kata-kata dan Anda dapat membantu mereka dengan membuat poster berisi “ungkapan
perasaan” (Borba, 2008: 127). Hal ini dapat dilakukan dengan cara menuliskan
kata-kata yang menunjukkan kepada orang lain bahwa kita benar-benar marah dan
menggantungkannya, setelah itu kita dapat menggunakan kata-kata tersebut untuk
menanyakan alasan kemarahan mereka, seperti: “Seperti kamu marah. Kamu mau
bercerita kenapa kamu marah?”.
2.
Perhatikan tanda-tanda amarah. Jelaskan kepada anak bahwa kita dapat melihat
tanda-tanda munculnya rasa marah dan kita harus memperhatikan hal tersebut
untuk menghindari sebuha persoalan (Borba, 2008: 128). Kita dapat membantu anak
dengan mengenali tanda-tanda tersebut, seperti nada suara semakin tinggi, wajah
memerah, jantung berdegup, telapak tangan mengepal, napas terengah-engah, dan
mulut terasa kering. Anda perlu menunjukkan saat pertama kali mereka
mengalaminya. Dengan membantu anak melihat tanda-tanda tersebut saat kemarahan
mulai muncul biasanya ketika pertama kali ada tekanan atau stres anak akan
semakin dapat menenangkan diri dan belajar mengatur perilakunya. Kemarahan
mudah meningkat dan jika anak tidak segera berusaha mengontrol diri, ia akan
terlambat menguasai dirinya kembali (Borba, 2008: 128).
3.
Tenangkan diri dengan berbicara dalam hati. Para hali menyarankan agar kita membantu anak
belajar mengontrol dir dengan mengajarkan mereka untuk menegaskan dengan
kata-kata sederhana dan positif kepada diri mereka sendiri dalam situasi yang
menimbulkan stres (Borba, 2008: 128). Kata-kata tersebut seperti “Tetap
tenang,” “Tetap terkendali,” “Tarik napas dalam-dalam,” dan “Aku bisa
mengatasinya.” Ajarkan kata-kata semacam itu kepada anak dan biarkan mereka
memilih sendiri mana yang paling tepat untuk menenangkan hati mereka, bantu
beberapa kali melatih mereka dalam menggunakan kata-kata tersebut. Semakin
sering anak berlatih menggunakannya, semakin mudah menerapkanya dalam situasi
sulit ketika mereka perlu tetap bersikap tenang dan mengontrol diri.
4.
Ajarkan cara teknik pernapasan. Belajar teknik pernapasan yang baik khususnya dalam
situasi sulit merupakan salah satu cara paling efektif untuk dapat mengontrol
diri (Borba, 2008: 128). Jadi, hal tersebut perlu diajarkan kepada anak-anak.
John Decey dan Lisa Fiore, ahli perkembangan anak dan penulis Your Anxious Child, menyarankan agar
kita mengajarka metode relaksasi dengan posisi anak duduk nyaman, punggung
tegap bersandar pada kursi (Borba, 2008: 128-129). Kemudian dilanjutkan dengan
menarik napas perlahan-lahan hingga lima hitungan dan tingkatkan hitungan
tersebut sampai memberikan relaksasi yang maksimal.
Rumus Tiga Langkah Mengendalikan Dorongan Impulsif
Kata-kata yang disebutkan anak untuk disebutkan
dalam hati ketika menghadapi godaan sangat menentukan apakah ia dapat menahan
dorongan impulsif atau tidak (Borba, 2008: 131). Ketiga langkah ini mengajarkan
anak agar tidak selalu impulsif dan dapat mengontrol diri, khususnya dalam
keadaan stres; anak-anak belajar berhenti sejenak dan berpikir sebelum
bertindak, sehingga ketika bertindak, mereka mengambil langkah yang tepat (Borba,
2008: 131-132). Masing-masing langkah itu untuk mengendalikan godaan. Untuk
memudahkan mengingat ketiganya, kita bisa menyebut langkah “3 B”.
1.
Berhenti
Langkah
pertama membantu anak menahan dorongannya merupakan tindakan yang terpenting:
anak harus belajar berhenti dan diam sebelum bertindak (Borba, 2008: 132).
Berhenti beberapa detik saja bisa sangat berpengaruh khususnya dalam keadaan
yang menimbulkan stres atau situasi berbahaya. Bagi sebagian anak, berhenti
sebelum bertindak tidaklah mudah dilakukan, khususnya bagi anak yang masih kecil
atau bersifat impulsif (Borba, 2008: 132). Jadi, pada awalnya mungkin Anda
perlu memegangi mereka dan mengatakan, “Berhenti dan diam sebentar”. Terus
lakukan seperti itu sampai anak bisa menguasai diri. Cara lain yang juga dapat
membantu adalah menghitung satu, dua, tiga dan seterusnya agar anak ingat bahwa
ia harus berhenti sebelum bertindak, kemudian menarik napas perlahan.
Selanjutnya anak mesti terus-menerus mempraktikkan hal tersebut sampai akhirnya
menjadi kebiasaan. Ingat, Anda membantu anak mengembangkan kebiasaan baru, dan
cara terbaik adalah memprantikkannya berulang-ulang.
2.
Berpikir
Langkah
kedua dalam membuat anak mengendalikan dorongan adalah membuat ia berpikir
dalam situasi sulit yang dihadapi dan konsekuansi yang mungkin timbul akibat
tindakan yang salah (Borba, 2008: 133). Cara termudah melatih anak berpikir
adalah mengajarkannya segera melihat sekitar, memperhatikan apa yang terjadi,
dan bertanya pada diri sendiri. Ini merupakan langkah penting agar anak dapat
mengendalikan dorongan dan dapat bertindak benar (Borba, 2008: 133). Salah satu
cara membantu anak memperkirakan akibat yang mungkin timbul adalah mengajarinya
bertanya dalam hati. Cara mudah mengajarkan hal itu pada anak yang masih kecil
adalah menyuruhnya berpura-pura menjadi peramal. Ingatkanlah, jika ia akan
merasa menyesal melakukan tindakan tersebut, ia tidak semestinya melakukan itu.
3.
Bertindak
Langkah
ketiga ini membantu anak memahami bahwa dia sendirilah yang bertanggung jawab
atas perbuatannya, dan ini merupakan bagian terpenting bagi perkembangan moral
(Borba, 2008: 134). Intinya, semua anak memang kadang-kadang cenderung
mengambil keputusan yang tepat; ini bagian dari hidup. Jika anak Anda mengambil
pilihan yang tidak baik, jadikan hal tersebut sebagai kesempatan untuk mendidiknya
agar kelak ia bisa mengambil pilihan yang terbaik. Tujuannya untuk
membimbingnya sehingga ia bisa melihat kelak kesalahannya dan kemudian
membantunya memikirkan tindakan apa yang semestinya ia lakukan.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
1.
Kontrol diri
merupakan bagian dari kebajikan utama kecerdasan moral yang membantu kita menahan
dorongan dari dalam diri kita dan mendorong kita untuk berpikir sebelum
bertindak, sehingga kita dapat melakukan hal yang benar, dan kecil kemungkinan
mengambil tindakan yang akan menimbulkan akibat buruk. Kontrol diri membantu
kita menjadi mandiri karena kita akan tahu bahwa kita dapat mengendalikan
tindakan kita sendiri. Kontrol diri juga menyingkirkan keinginan yang sifatnya
untuk pemuasan pribadi melainkan mementingkan keperluan orang lain.
2.
Penyebab dari
timbulnya krisis kontrol diri yang buruk yaitu karena kesibukan orang tua yang
menimbulkan stres. Anak tidak akan mampu belajar mengamati sikap orang lain untuk
mengembangkan kontrol dirinya, apabila orang tuanya sendiri sering kali dalam
keadaan stres. Justru hal ini akan membuat anak meniru sikap orang tuanya
tersebut. Kekerasan yang menimbulkan trauma juga salah satu penyebab dari
krisis kontrol diri yang buruk saat ini. Pengalaman apapun yang dirasakan oleh
anak-anak akan memberi pengaruh yang besar terhadap kontrol diri. Terlebih
pengalaman kekerasan, keluarga yang tumbuh dalam kekerasan, kemungkinan besar anak-anaknya
akan tumbuh menjadi anak nakal. Selain dua faktor tersebut, ketergantungan yang
berlebihan pada obat daripada mengendalikan diri juga memiliki pengaruh yang
besar terhadap krisis kontrol diri yang buruk. Penggunaan obat-obat untuk
mengontrol perilaku impulsif, hiperaktif, dan kurang konsentrasi ini akan
membuat anak ketergantungan terhadap zat-zat kimia untuk mengontrol perilaku
mereka, padahal semestinya diajarkan cara menahan dorongan yang mereka hadapi.
Faktor yang keempat adalah kekerasan dalam dunia hiburan. Dunia hiburan
sekarang ini sebagian besar mengandung unsur kekerasan seperti pada tayangan
televisi dan video game. Apa yang
anak-anak lihat dalam tayangan film dan video
game yang berbau kekerasan akan sangat berpengaruh pada perilaku mereka.
Banyak penelitian menyebutkan bahwa akibat dari media hiburan yang mengandung
unsur kekerasan akan menimbulkan perilaku agresif pada anak. Anak akan menjadi
seorang yang impulsif dan juga destruktif.
3.
Cara untuk
menumbuhkan kontrol diri dalam diri anak adalah dengan tiga cara, yang pertama
memberikan contoh kontrol diri dan menjadikan hal tersebut sebagai prioritas. Pada
tahap ini kita menunjukkan bagaimana cara kita untuk memulai menumbuhkan
kontrol diri dalam diri anak dan beberapa perilaku yang efektif digunakan dalam
memberikan contoh tentang kontrol diri. Langkah yang kedua, yaitu mendorong
anak agar memotivasi dirinya sendiri. Dengan demikian anak akan menjadi lebih
percaya diri dan mereka akan sadar bahwa kontrol diri itu harus mereka miliki.
Pada langkah ini memberikan strategi yang dapat membantu anak untuk
mengembangkan sistem pengaturan internal dalam membangun kontrol diri mereka.
Selanjutnya adalah membantu anak belajar untuk mengontrol diri dalam keadaan
stres atau situasi penuh godaan agar mereka memiliki sikap berpikir sebelum bertindak. Dengan tiga cara yang digunakan
tersebut akan membantu anak untuk selalu bertindak benar.
DAFTAR REFERENSI
Borba,
M. (2008). Membangun kecerdasan moral.
Jakarta: Gramedia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar